Tuesday, May 19, 2015

Perubahan Emosional Pada Ibu Hamil

perubahan emosional pada ibu hamil
Pada  awal-awal kehamilan, sering terjadi perubahan emosional suasana hati pada ibu hamil. Emosinya naik turun. Kadang senang, kadang uring-uringan, bahkan sering tersinggung. Hal kecil saja bisa menyulutnya jadi marah besar. 


Ketidakstabilan Emosi


Saat hamil terjadi beberapa perubahan pada wanita, baik secara fisik maupun psikis. Nah, mudah marah, merasa sedih, panik atau suasana hati yang sering berubah adalah kondisi emosional dan mental yang biasa dialami oleh seorang ibu hamil (bumil). Penyebabnya, ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron pada saat hamil.

Ketidakseimbangan hormon ini berpengaruh pada persyarafan di otak (neurotransmitter) yang mengatur perubahan mood. Pada bumil, ketidakseimbangan hormon ini biasa terjadi. Secara sederhana, kondisi ini mirip ketika wanita muda mengalami menstruasi.

Namun, jangan khawatir. Ini tidak berlangsung lama. Biasanya perubahan mood dialami ibu hamil saat trimester pertama (usia kandungan 6 hingga 10 minggu), dan saat trimester ketiga ketika tubuh sudah siap untuk melahirkan.

Setelah anak lahir, tentu hormon akan kembali seimbang sehingga perubahan emosi yang naik turun akan berangsur menghilang. Bahkan, beberapa ibu mengakui bahwa emosi mereka kembali stabil lebih cepat, yakni setelah usia kehamilan mencapai trimester kedua.


Mudah Marah


Mudah tersinggung alias kerap marah sering dikeluhkan suami saat istrinya hamil. Seperti telah disebutkan, meningkatnya sejumlah hormon (terutama hormon progesteron pada trimester pertama) merupakan penyebabnya.

Selain itu, adanya kegugupan berlebihan dan kekhawatiran tentang hasil akhir dari kehamilan, yaitu kondisi bayi yang akan dilahirkannya, juga bisa menjadi pemicu. Wanita yang sedang hamil pertama kali biasa mengalami hal ini. Akibatnya, masa-masa kehamilan yang seharusnya disambut dengan gembira malah berubah menjadi periode penuh tekanan baginya.

Selain peningkatan kadar hormon, perubahan bentuk tubuh saat hamil juga bisa membuat bumil mudah tersinggung. Apalagi kalau ia merasa bahwa dirinya tak lagi menarik secara fisik.


Tingkatkan Mood Istri


Jadi buat para suami, sudah tidak bingung lagi khan, jika para bumil sering marah? Untuk para suami, bersabarlah dalam menghadapi sifat emosional para bumil ini.

Tanamkan saja dalam hati bahwa amarah yang dilontarkan para istri adalah ungkapan si hormon semata, bukan keinginan pribadi dari istri tercinta.

Justru, suami harus pintar-pintar meningkatkan mood istri. Jadilah teman bicara yang menyenangkan dan pendengar yang setia baginya.

Namun jika ketidakstabilan emosi tersebut mulai mengganggu keharmonisan keluarga, ini saatnya suami mulai bertindak. Berikan pemahaman kepada istri bahwa perubahan mood ini hanyalah bersifat sementara dan ia harus belajar mengendalikan emosinya.

Ingat, bayi dalam kandungan bukan hanya ikut memakan segala makanan yang dimakan ibunya, tapi juga merasakan segala kesedihan atau kegembiraan sang ibu.

Bukan tidak mungkin bayi yang akan dilahirkan akan mengalami masalah dengan emosinya bila ibunya terus menerus merasa sedih, galau, mudah marah dan menyebarkan emosi negatif lain sepanjang masa kehamilannya.


Cegah Emosi Negatif


Semoga kiat-kiat berikut ini bisa suami terapkan pada istri guna mengurangi emosi menyebalkan diatas :
  1. Menyibukkan Diri. Berilah saran pada istri untuk menyibukkan diri. Bantu ia untuk bersikap lebih santai. Bisa dengan melakukan hobi atau hal yang menyenangkan. Namun awasilah agar ia tak melakukan aktivitas yang melelahkan atau membahayakan kehamilannya.
  2. Bersosialisasi. Bila istri adalah ibu rumah tangga, dorong ia untuk mau bersosialisasi. Manfaatkan aplikasi chatting agar ia bisa berkomunikasi dengan teman-teman atau kerabat yang tinggal jauh, serta bergabung dalam komunitas ibu hamil untuk tukar pengalaman.
  3. Cukup Tidur. Ibu hamil mudah tersinggung ketika ia merasa lelah dan kurang istirahat. Sarankan ia agar tidak begadang. Tidur tepat waktu bukan hanya baik untuk bumil, namun juga membiasakan bayi dalam kandungan untuk tidur pada jam-jam tersebut.
  4. Hindari Junk Food. Bahan pengawet dalam junk food ditenggarai mengandung senyawa yang mengakibatkan tubuh merasa lelah dan tertekan. Sediakan selalu makanan segar seperti buah-buahan dan sayuran untuk menjauhkan diri istri anda dari gangguan emosi.
  5. Yoga. Bumil perlu olahraga yang teratur untuk menjaga kebugaran jasmani sekaligus psikisnya. Berlatih yoga baik untuk membantu bumil agar tidak mudah tersinggung. Dengan yoga, bumil akan mengetahui cara mengontrol emosi, sekaligus meningkatkan energi sebagai persiapan menjelang persalinan. Namun, jangan melakukan gerakan yoga yang berbahaya dan pastikan istri didampingi oleh instruktur yang terlatih dan berpengalaman.



Wednesday, March 18, 2015

Menyambut Si Kecil Trimester 1 : Bolehkah Ibu Hamil Berolahraga Di Awal Kehamilan?

ibu hamil berolahraga
Di awal Kehamilan ini, bolehkah ibu hamil berolahraga? Menurut para ahli, ibu hamil tetap boleh berolahraga. Namun tentu selama kehamilan tidak berisiko. Seperti apa kehamilan yang dianggap berisiko? Diantaranya kehamilan dengan plasenta previa. Selama tidak mengeluarkan vlek, boleh saja olahraga ringan, tapi bila sering perdarahan, harus istirahat total. Pasien dengan kelainan jantung atau penyakit-penyakit berat lainnya juga tidak disarankan berolahraga.

Ibu hamil yang kondisinya fit dan bugar, silahkan melanjutkan hobinya berolahraga. Namun, tidak semua aktifitas fisik boleh dilakukan di trimester pertama kehamilan. Ibu hamil tidak memerlukan olahraga yang menitikberatkan pada kekuatan. Olahraga yang dibutuhkan ibu hamil adalah yang sifatnya melenturkan dan membuat daya tahan tubuhnya bagus.

Bagi para ibu yang sebelum hamil sudah terbiasa berolahraga akan memiliki keuntungan tersendiri. Stamina tubuh mereka umumnya bagus dan tidak sering mengalami kontraksi dan keputihan. Bila kebiasaan olahraga ini dilanjutkan selama kehamilan, perkembangan tubuh ibu dan janin juga akan sehat.

Yang tidak disarankan adalah hobi ibu yang menuntut latihan-latihan fisik berisiko tinggi, seperti body combat, diving dan sebagainya. Begitu juga olahraga yang memiliki gerakan yang berbahaya bagi janin, seperti melompat dan mengentak-entak, angkat beban, maupun lari. Olahraga yang membebani otot perut juga sebaiknya tidak dilakukan.



Lakukanlah Olahraga Berikut Ini


Bagi ibu hamil yang baru mencoba berolahraga, pilihlah olahraga-olahraga yang ringan. Kuncinya lakukan secara bertahap dan perlahan, hanya 15 menit per sesi, dua atau tiga kali seminggu. Setelah itu bisa ditingkatkan menjadi 20-30 menit per sesi latihan. Sebelum mulai latihan, terlebih dahulu lakukan pemanasan. Bila di tengah latihan ibu merasa sesak napas, sakit atau keluar vlek, hentikan latihan dan konsultasikan pada dokter. Ada baiknya ibu mendapatkan persetujuan dokter terlebih dulu sebelum melakukan latihan fisik.

Kehamilan di trimester pertama memang perlu mendapat perhatian lebih karena janin didalam kandungan belum kuat sehingga mudah terjadi vlek dan keguguran. Karena itu sekali lagi, latihan fisik yang menempatkan ibu pada risiko tinggi cidera harus dihindari selama kehamilan. Berikut ini olahraga atau kegiatan fisik yang aman dilakukan selama trimester pertama kehamilan :
  1. Senam Aerobik Ringan. Latihan yang memacu pernapasan dan detak jantung ini dapat meningkatkan kadar oksigen sehingga supply oksigen ke janin juga makin lancar. Senam aerobik ringan juga akan membakar kalori serta meningkatkan kualitas tidur. Bila dilakukan secara teratur dapat mencegah sakit punggung dan memudahkan persalinan, mengurangi risiko kelahiran prematur, mencegah ambein dan varises.
  2. Jalan Kaki. Olahraga ini termasuk yang paling murah dan praktis. Bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Hanya melangkahkan kaki, sambil menikmati pemandangan yang dilalui, tak terasa kalori dalam tubuh akan terbakar tanpa melakukan kegiatan fisik yang berat. Namun, untuk menghindari cidera, gunakan sepatu yang nyaman dan pastikan tali sepatu terikat sempurna. Lakukan jalan kaki di pagi hari dimana cuaca masih bersahabat. Hindari berjalan kaki di tengah cuaca yang panas dengan jarak yang jauh, karena dapat membuat tubuh kepanasan dan dehidrasi.
  3. Berenang. Berenang dapat menjaga kesehatan jantung dan paru. Gerakan renang yang dinamis juga cukup efektif untuk melatih otot-otot, terutama di bagian lengan dan kaki. Sedangkan untuk meningkatkan kelenturan, renang juga melatih sendi sehingga mampu meminimalkan cidera dan masalah keseimbangan tubuh. Selama trimester pertama, berenang selama 20 menit yang dilakukan tiga kali seminggu akan membuat tubuh ibu tetap dalam kondisi yang baik.
  4. Bersepeda Statis. Kegiatan bersepeda dapat dilakukan di trimester pertama. Dibandingkan dengan bersepeda di jalan raya, bersepeda statis jauh lebih aman bagi ibu hamil karena tidak menghadapi jalan yang berlubang dan resiko jatuh yang membahayakan kehamilan. Bersepeda statis mencegah ibu dari cidera dan mengurangi ketegangan pada organ-organ kehamilan. Hentikan latihan jika ibu merasa pusing atau merasa ingin pingsan.
  5. Yoga dan Teknik Relaksasi. Yoga dan teknik relaksasi dapat meningkatkan kemampuan fisik dan memberikan rasa nyaman, serta menurunkan tingkat stres. Hal ini sangat dibutuhkan saat proses persalinan. Ada banyak gaya yoga yang bisa dipilih, diantaranya iyengar yoga, yang menekankan postur, keselarasan dan keseimbangan. Pada trimester kedua atau ketiga, dokter mungkin akan mengatakan pada ibu untuk menghindari pose yoga yang mengharuskan ibu untuk berbaring telentang.
  6. Senam Pilates. Pilates adalah latihan yang sangat baik dan aman untuk dilakukan selama trimester pertama dan seterusnya. Pilates dapat memperkuat otot inti, mendukung postur tubuh yang baik, dan mencegah sakit punggung setelah berat ibu meningkat. Pilates juga dapat meningkatkan keseimbangan dan stabilitas, memperkuat otot-otot dasar panggul dan mempercepat penurunan berat badan setelah melahirkan.
  7. Stretching. Latihan ini aman dan dapat dilakukan pada setiap trimester kehamilan karena tidak meningkatkan denyut jantung sebanyak jalan kaki, misalnya. Stretching dapat mengurangi risiko cidera dan komplikasi saat hamil maupun melahirkan. Stretching bisa dilakukan beberapa kali setiap hari bahkan di tempat kerja sekalipun tanpa membutuhkan peralatan khusus. Lathan ini juga bisa dilakukan sebelum dan setelah melakukan olahraga lain.
  8. Kegel. Senam ini sangat baik untuk semua perempuan, terutama selama masa kehamilan. Kegel dapat memperkuat otot dasar panggul dan otot-otot lainnya yang akan bekerja saat proses melahirkan. Selain itu juga bisa menunjang postur tubuh dan mengurangi rasa sakit, serta mencegah kelebihan berat badan selama kehamilan dan setelah melahirkan.


Tip Bugar Selama Kehamilan


Selain olahraga secara teratur, para ahli menyarankan beberapa hal ini untuk menjaga kebugaran ibu hamil selama kehamilan :
  1. Periksakan kesehatan secara teratur.
  2. Makan cukup dengan gizi seimbang, terutama perbanyak protein, buah dan sayur. Pastikan hanya makanan segar yang ibu konsumsi.
  3. Tidur teratur, 6-8 jam setiap hari.
  4. Minum lebih banyak dari biasanya.
  5. Hindari bekerja lembur dan bekerja berat.
  6. Hindari aktivitas kasar, misalnya mengangkat beban berat.
  7. Usahakan untuk selalu relaks.
Nah, siap untuk meneruskan olahraga? Jangan lupa saat berolahraga, hormon endorfin akan keluar dan membuat ibu lebih bahagia dan enerjik.

Wednesday, March 11, 2015

Menyambut Si Kecil Trimester 3 : Ibu Hamil Sungsang

ibu hamil sungsang
Bila posisi bayi sungsang atau melintang masih dapat berputar ke posisi normal dengan trik khusus. Tingkat keberhasilannya mencapai 90%.

Normalnya, menjelang kelahiran, posisi janin adalah kepala di bawah, kaki di atas. Tapi, ada calon ibu yang posisi janinnya abnormal. Oleh kebanyakan orang, posisi ini kerap disebut sungsang. Sedangkan di dunia kedokteran disebut malpresentasi.

Ada 4 tipe malpresentasi, yaitu posisi bayi melintang dan sungsang. Bayi disebut melintang dalam kandungan jika posisinya horizontal (transverse pregnancy), sumbu tubuh bayi melintang terhadap sumbu tubuh ibu, dengan kepala pada sisi samping rahim yang satu dan bokong atau kaki pada sisi yang lain. Sedangkan sungsang adalah posisi bayi sejajar dengan sumbu tubuh ibu tapi kepala bayi ada di atas.

Sementara itu, janin yang sungsang, memiliki 3 variasi pada posisi kaki :
  1. Frank Breech, bokong janin berada di bawah dengan kedua tungkai terangkat ke atas hampir menyentuh telinga, posisi hampir sejajar dengan bahu atau kepala. Sebanyak 65-70% janin sungsang adalah posisi Frank breech.
  2. Complete Breech atau sungsang sempurna yaitu jika bokong janin berada di atas mulut rahim sementara kedua kaki terlipat sempurna, menghadap ke atas sejajar dengan telinga. Jika dilihat dengan sekilas, janin seperti sedang berjongkok.
  3. Incomplete Breech atau sungsang tidak sempurna jika satu kaki janin berada di atas dan kaki lainnya berada di bawah.

Hampir semua janin dalam posisi sungsang  di usia kehamilan 28 minggu, yakni posisi kepala berada di bawah tulang rusuk ibu. Sampai kehamilan 28 minggu, janin masih bebas bergerak sesukanya karena berat masih lebih ringan dibandingkan rahim dan ukurannya masih kecil. Ketika usia kehamilan masuk minggu ke 34, umumnya janin sudah berada dalam posisi tetap atau tidak berubah lagi.


Penyebab Malpresentasi


Ada 3 penyebab posisi bayi melintang atau sungsang, yaitu faktor janin, faktor ibu, dan faktor ari-ari atau plasenta. Pada penyebab yang berasal dari faktor janin, kasusnya cukup beragam. Pertama, ketika ukurannya lebih kecil dibandingkan rahim, maka janin akan bebas berputar, baik ke atas maupun ke bawah sehingga bisa terjadi malpresentasi. Malpresentasi juga bisa terjadi jika ukuran bayi sudah cukup besar untuk berputar, sementara posisi kepala masih di atas atau di samping. Kepala yang harusnya bisa melewati panggul menuju posisi normal akhirnya “terpental” kembali karena kepala janin sudah lebih besar daripada rongga panggul ibu. Janin pun sulit berputar ke arah bawah. Pada kasus janin kembar, kemungkinan malpresentasi menjadi lebih besar sebab janin saling berdesakan. Pada beberapa kasus janin kembar, desakan tersebut bisa menghalangi janin untuk masuk ke posisi normal.

Jika penyebab posisi melintang adalah faktor ibu, umumnya karena ibu memiliki bentuk rahim yang tidak normal, air ketuban yang terlalu banyak, pinggul terlalu sempit, dan tumor pada rongga panggul atau rahim (miom atau kista ovarium). Kasus multigravida pada ibu yang sudah melahirkan banyak anak terutama lebih dari 5 juga bisa menjadi penyebab. Pada kondisi ini rahim jadi lebih tegang dibandingkan dengan kehamilan yang normal.

Untuk penyebab yang berasal dari ari-ari, umumnya janin melintang karena kasus plasenta previa (letak plasenta di bawah menutup jalan lahir). Plasenta previa dapat mengurangi luas ruang rahim sehingga bayi berputar-putar, berusaha mencari tempat yang lebih luas yaitu di bagian atas atau samping. Penyebab lain bayi melintang adalah relaksasi / peregangan dinding perut akibat proses persalinan sebelumnya yang belum sempurna atau ibu pernah melahirkan 4 kali atau lebih.


Deteksi dan Penanganan


Umumnya posisi malpresentasi janin dapat diketahui saat pemeriksaan rutin dengan rabaan luar perut. Jika bagian atas atau samping perut terasa keras dan besar, diperkirakan terjadi malpresentasi janin. Cara lainnya dengan USG dan pemeriksaan bagian dalam dengan menggunakan jari.

Jika sudah pasti terjadi malpresentasi atau sungsang, dokter akan menyarankan ibu untuk sering-sering melakukan posisi sujud (nungging dengan dada menempel di lantai), posisi perut seakan-akan menggantung ke bawah. Jika posisi ini dilakukan dengan teratur segera setelah ada kepastian dari dokter (biasanya di minggu ke 34), kesempatan bayi mencapai posisi lahir normal cukup besar yaitu sekitar 90%, terutama jika latihan dilakukan di awal trimester 3. Dengan catatan tidak ada faktor yang sangat menghalangi posisi bayi untuk berputar.

Cara lain untuk merubah posisi janin melintang menjadi normal adalah dengan cara versi luar (externalcephalic version / ECV). Sesuai dengan namanya, versi luar adalah tindakan mengubah posisi janin melintang dari luar. Tindakan akan segera dihentikan bila ibu merasa sakit (otot rahim kejang, misalnya) atau tak sengaja tindakan tersebut melepas plasenta. Versi luar tak bisa dilakukan bila letak plasenta ada di bawah sebab janin tidak mungkin bisa diputar.

Saat ini tindakan versi luar sudah sangat jarang dilakukan karena dianggap cukup berisiko. Kalaupun dilakukan, risiko harus diperkecil dengan memilih lokasi rumah sakit yang memiliki fasilitas pembedahan sesar emergensi.