Monday, January 25, 2016

Waspadai 10 Tanda-Tanda Akan Melahirkan Dalam Waktu Dekat

tanda akan melahirkan dalam waktu dekat,tanda tanda melahirkan,tanda tanda mau melahirkan,tanda tanda akan melahirkan,tanda melahirkan,tanda-tanda melahirkan sudah dekat,tanda tanda melahirkan normal,tanda melahirkan sudah dekat,tanda akan melahirkan normal,tanda2 melahirkan,tanda tanda ibu mau melahirkan,tanda tanda orang mau melahirkan,waspadai tanda tanda ibu melahirkan
Saat usia kehamilan Ibu sudah cukup bulan, artinya si kecil bisa lahir kapan saja. Kenalilah seperti apa tanda-tanda melahirkan, agar Ibu tahu apakah harus segera ke rumah sakit atau masih bisa menunggu di rumah.

Umumnya, masa kehamilan berlangsung selama 9 bulan 10 hari atau 38-42 minggu. Memasuki bulan ke 9, Ibu hamil biasanya sudah bersiap untuk menghadapi datangnya waktu persalinan. Saat usia kehamilan mencapai 38 minggu, berbagai tanda-tanda melahirkan sudah dekat mulai bermunculan.

Tanda-tanda akan melahirkan dalam waktu dekat bisa terjadi di waktu berbeda. Ada yang muncul sejak beberapa minggu sebelum persalinan, ada juga yang baru terasa beberapa hari ataupun beberapa jam sebelum persalinan. Agar Ibu mengetahui bahwa si kecil sudah ingin benar-benar dilahirkan, mari kenali berbagai tanda persalinan secara lebih mendalam.


Nyeri di Bagian Selangkangan


Rasa nyeri ini muncul karena tubuh Ibu tengah melepaskan hormon relaksin dalam jumlah maksimal, biasanya di usia kehamilan 38-40 minggu. Relaksin adalah hormon yang berfungsi melunakkan dan meregangkan ligamen atau sambungan tulang, sehingga timbul celah di antara kedua tulang panggul, sebagai salah satu bentuk persiapan tubuh dalam menyediakan jalan lahir bagi janin.

Selain pada ligamen, pelunakkan juga terjadi pada sendi-sendi di area panggul (pelvis). Inilah yang memicu timbulnya sensasi aneh dan tidak nyaman alias rasa sakit yang Ibu hamil rasakan di panggul, pinggul, paha, dan bokong. Rasa nyeri di bagian selangkangan merupakan salah satu pertanda persalinan sudah dekat. Namun, jika tidak dibarengi dengan pertanda lain, kemungkinan Ibu belum akan melahirkan dalam beberapa jam ke depan.

Jika rasa nyeri tersebut sangat hebat, sebaiknya segera periksakan ke rumah sakit. Pada sebagian kecil Ibu hamil, nyeri hebat di bagian selangkangan bisa menjadi indikasi dari suatu kondisi yang disebut Symphysis Pubis Dysfunction (SPD), yakni ketika celah yang terbentuk akibat peregangan di antara kedua tulang panggul cukup lebar. Setelah persalinan, tubuh berhenti melepaskan relaksin sehingga nyeri di sekitar selangkangan umumnya akan hilang dengan sendirinya.


Sering Buang Air Kecil


Di trimester ketiga, rahim makin besar dan kian menekan organ-organ di sekelilingnya, termasuk kandung kemih. Akibat adanya tekanan tersebut, kapasitasnya untuk menyimpan urine pun berkurang. Hal ini menyebabkan frekuensi buang air kecil Ibu hamil semakin tinggi.

Ditambah lagi, beberapa pekan atau beberapa hari menjelang persalinan, posisi janin semakin turun ke panggul dan memberikan tekanan lebih kuat kepada kandung kemih. Selain sering buang air kecil, Ibu hamil juga umumnya akan “mengompol” atau kesulitan menahan keluarnya urine saat sedang batuk, bersin atau tertawa.

Frekuensi buang air kecil yang meningkat merupakan salah satu indikasi bahwa janin sudah turun ke panggul dan bersiap memasuki jalan lahir. Jika diikuti dengan kontraksi atau pecahnya ketuban, bisa dipastikan waktu bersalin sudah tiba. Namun, jika tidak dibarengi dengan tanda persalinan yang lain, Ibu tidak perlu terburu-buru ke rumah sakit karena waktu persalinan masih beberapa minggu atau beberapa hari lagi.


Keluar Lendir Darah


Selama kehamilan, leher rahim atau serviks Ibu akan “disumbat” oleh semacam lendir. “Penyumbatan” ini terjadi secara alamiah dan berfungsi melindungi rahim dari jangkauan bakteri. Ketika kehamilan Ibu sudah cukup bulan dan serviks mulai mengendur, lendir tersebut akan terlepas dan keluar melalui vagina. Warnanya bisa cokelat, merah muda atau merah gelap, karena disertai darah dari sobeknya pembuluh darah. Keluarnya lendir ini bisa terjadi beberapa jam ataupun beberapa hari sebelum proses persalinan berlangsung.


Sakit Pada Punggung


Saat hamil tua, bisa saja tiba-tiba Ibu merasakan sakit yang hebat pada punggung bagian bawah. Biasanya hal ini terjadi akibat janin sedang berusaha memutar tubuhnya menuju posisi yang benar, yaitu jalan lahir. Perubahan posisi ini biasanya terjadi saat usia kehamilan mencapai 37 minggu. Janin akan berusaha turun ke rongga panggul dengan kepala di bawah dan wajah menempel pada tulang belakang Ibu.

Akan tetapi, terkadang yang terjadi tidak persis seperti itu. Saat turun, bisa saja tempurung kepala janin yang menempel pada tulang belakang Ibu, inilah yang membuat Ibu merasakan sakit hebat pada punggung. Rasa sakit di punggung menandakan janin sudah berada di jalan lahir dan dalam hitungan minggu atau hari, ia pun siap dilahirkan.


Terjadi Kontraksi


Kontraksi yang terjadi, sering kali digambarkan seperti rasa sakit berupa kram pada perut serta mulas yang biasa dialami ketika menstruasi, tetapi lebih intens. Kontraksi merupakan salah satu bentuk persiapan rahim dalam menyambut datangnya waktu persalinan. Kontraksi persalinan yang sesungguhnya adalah pertanda utama Ibu akan segera melahirkan dalam beberapa jam ke depan.
Ciri-cirinya yaitu :
  • Frekuensi sangat sering dan semakin lama semakin kuat. Kontraksi terjadi setiap 10 menit sekali atau kurang, dengan durasi masing-masing selama 40-60 detik.
  • Disertai keluarnya darah dan lendir dari vagina.
  • Disertai keluarnya air ketuban.

Jika kontraksi muncul dengan jarak yang teratur, tidak lama (sekitar satu menit), tidak semakin kuat, dan tidak disertai nyeri pada bagian selangkangan atau panggul, tandanya Ibu sedang mengalami kontraksi Braxton Hicks atau kontraksi palsu. Bila kontraksi sungguhan terasa di bagian belakang tubuh, kontraksi palsu terasa di bagian depan perut. Ibu dapat memastikan jenis kontraksi dengan berpindah posisi. Bila rasa mulas seketika berkurang atau hilang, tandanya itu kontraksi palsu. Sebaliknya, jika Ibu sudah bergerak kesana kemari, tetapi kontraksi terasa semakin kuat, artinya waktu melahirkan sudah tiba dan Ibu harus segera ke rumah sakit.


Ketuban Pecah


Ketuban pecah merupakan salah satu pertanda kuat bahwa Ibu sudah memasuki waktu melahirkan. Bila ketuban pecah, yang antara lain ditandai dengan keluarnya air ketuban dari vagina secara cepat dan dalam jumlah banyak, maka Ibu harus segera ke rumah sakit. Biasanya persalinan akan terjadi sekitar 24 jam setelah ketuban pecah.

Air ketuban yang normal berwarna jernih atau putih bening. Umumnya, keluarnya air ketuban didahului dengan kontraksi persalinan. Namun, ada juga Ibu hamil yang ketubannya pecah tanpa merasakan kontraksi. Ini yang perlu diwaspadai, karena air ketuban bisa keluar secara perlahan dan bertahap, tanpa disadari oleh Ibu hamil. Jika air ketuban habis, janin menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan keselamatannya pun terancam.

Jadi, bila Ibu merasakan ada cairan keluar dari vagina, segeralah periksa warnanya. Bila warnanya bening, keluarnya sedikit-sedikit, tetapi terus-menerus, kemungkinan ketuban Ibu sudah pecah. Jika air ketuban yang keluar berwarna keruh atau kehijauan, tandanya kondisi di dalam rahim sudah tidak baik bagi janin dan Ibu harus segera ke rumah sakit.


Puting Basah Karena ASI “rembes”


Salah satu bentuk persiapan tubuh dalam menyambut bayi adalah memastikan ASI siap diproduksi. Persiapan ini sudah berjalan sejak kehamilan memasuki trimester ketiga. Struktur payudara Ibu berubah dan kelenjar yang memproduksi ASI mulai bekerja. Sebagian Ibu hamil mengalami ASI “rembes” jauh hari sebelum waktu persalinan tiba, namun kebanyakan Ibu hamil mengalami ASI “rembes” beberapa minggu ataupun beberapa hari menjelang hari melahirkan.

ASI yang keluar sebelum Ibu melahirkan itu adalah kolostrum, yaitu zat bernutrisi tinggi berwarna bening kekuningan. Kolostrum kaya akan protein, rendah lemak, dan mengandung antibodi, yang dihasilkan oleh kelenjar susu Ibu. Kolostrum merupakan makanan alami paling ideal bagi bayi. Zat yang terdapat di dalam ASI ini hanya keluar saat Ibu melahirkan hingga 1-2 hari setelahnya. Selanjutnya, payudara Ibu baru mulai menghasilkan ASI yang akan diminum oleh bayi selama minimal enam bulan ke depan. Jika masalah ASI “rembes” sangat mengganggu dan membuat tidak nyaman saat berada di luar rumah, Ibu bisa mencoba mengenakan breast pad untuk mencegah ASI merembes dan membasahi baju.


Diare


Ketika Ibu hamil sudah memasuki tahap awal persalinan, tubuh akan melepas lebih banyak prostaglandin, hormon yang membantu proses kontraksi dan pembukaan. Terkadang hormon ini memberikan stimulasi berlebihan terhadap usus sehingga memicu terjadinya diare.

Selain itu, sejak beberapa minggu menuju hari perkiraan lahir (HPL), semua otot di rahim sudah melemas guna mempersiapkan diri terhadap persalinan, termasuk yang terdapat di rectum (ujung saluran pencernaan yang berakhir di anus). Salah satu akibat dari pelemasan itu adalah Ibu hamil jadi mudah diare. Meski terasa sangat tidak nyaman, namun gejala ini merupakan salah satu tanda-tanda penting bahwa waktu melahirkan sudah tinggal beberapa hari lagi.

Agar tidak dehidrasi karena terlalu sering pup, perbanyaklah konsumsi air putih. Pastikan juga porsi makan tidak berkurang, agar Ibu tetap memiliki energi sambil menunggu datangnya waktu persalinan. Selain itu, ada baiknya untuk sementara menghindari jenis makanan dan minuman yang mudah merangsang timbulnya diare, seperti susu serta makanan pedas dan asam.


Bengkak di Daerah Vagina


Saat kehamilan memasuki minggu ke 37, janin secara aktif bergerak menuju panggul sehingga menimbulkan tekanan di area vagina. Hal ini antara lain yang membuat vagina terasa membengkak. Selain itu, bengkak pada vagina juga bisa muncul jika proses persalinan berlangsung lama, karena posisi bayi yang terus menekan menuju jalan lahir. Jika pembengkakan terjadi sebelum Ibu memasuki proses persalinan, cukup kompres area vagina dengan handuk yang sudah dibasahi air dingin untuk meringankan rasa tidak nyaman.


Posisi Janin Sudah Turun


Mendekati waktu persalinan, posisi janin akan semakin turun ke panggul. Kepalanya berada di bawah menekan rongga panggul, menandakan ia siap untuk dilahirkan. Pada Ibu hamil yang baru mengalami kehamilan pertama, penurunan biasanya terjadi pada saat usia kehamilan mencapai 37 minggu. Bagi Ibu hamil yang sudah pernah melahirkan, posisi bayi akan turun saat usia kehamilan di atas 38 minggu.

Meski begitu, penurunan ini bukan berarti Ibu sudah hendak melahirkan dalam hitungan jam. Persalinan bisa saja terjadi dalam beberapa hari atau beberapa minggu ke depan. Ibu perlu menunggu pertanda persalinan yang lain, seperti kontraksi atau ketuban pecah untuk memastikan saat melahirkan sudah tiba.

Sunday, January 17, 2016

Tidur Mendengkur Pada Saat Hamil

mendengkur saat hamil, ibu hamil mendengkur, ibu hamil tidur mendengkur, tidur mendengkur saat hamil, wanita hamil mendengkur, wanita hamil tidur mendengkur, penyebab ibu hamil mendengkur, penyebab mendengkur pada ibu hamil, penyebab mendengkur saat hamil, penyebab tidur mendengkur pada ibu hamil, penyebab tidur mendengkur saat hamil
Jangan anggap remeh kebiasaan tidur mendengkur pada saat hamil. Selain bisa menyebabkan tekanan darah tinggi dan diabetes gestasional, janin pun berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan lahir prematur.

Mendengkur atau mengorok kerap dialami oleh Ibu hamil, bahkan pada Ibu yang sebelum hamil tidak pernah mendengkur. Ibu hamil biasanya akan mulai mendengkur pada trimester kedua. Studi yang dilakukan oleh SLEEP (jurnal ilmiah dan medis bulanan yang menampilkan artikel berhubungan dengan tidur) membuktikan, 35% Ibu hamil mendengkur 3-4 kali dalam seminggu atau setiap hari dan 26% perempuan hanya mendengkur selama kehamilan.

Kenapa sih Ibu hamil bisa mendengkur? Berikut ini adalah beberapa alasannya …

Pertama, pertumbuhan rahim dan janin yang menekan diafragma membuat Ibu hamil menjadi sulit bernapas, termasuk ketika sedang tidur, ini membuat napas Ibu hamil menjadi berat.

Kedua, perubahan saluran napas yang dipicu oleh peningkatan hormon kehamilan, sehingga menyebabkan selaput lendir dan saluran hidung membengkak. Akibatnya, Ibu hamil jadi mendengkur.

Ketiga, peningkatan berat badan saat hamil membuat otot pernapasan terdesak, sehingga menyempit di bagian tenggorokan, lalu berbunyi saat dilewati udara.

Keempat, menurut Tess Graham, ahli pernapasan dan fisioterapis di Australia, stres (baik secara fisik, mental, maupun emosional) juga mempengaruhi pernapasan dan dapat menyebabkan seseorang menjadi mendengkur.

Saat hamil, sorang wanita memang harus selalu mempunyai perasaan yang senang atau gembira.


Bahaya Tidur Mendengkur Saat Hamil


Tidur mendengkur saat hamil sering dianggap wajar dan tidak berisiko pada kehamilan. Padahal, mendengkur ternyata mengakibatkan peningkatan tekanan darah, diabetes, preeklamsia, gangguan pertumbuhan janin, dan kelahiran bayi prematur.

Mendengkur ringan saat hamil saja sudah mempengaruhi aliran darah ke janin. Janin yang dikandung oleh Ibu yang mendengkur akan berusaha melindungi diri dengan mengurangi aktivitasnya. Efeknya, janin jadi kurang aktif dan fit.

Penelitian dari University of Michigan Health System menunjukkan, Ibu hamil yang tidur mendengkur tiga malam atau lebih tiap minggunya berisiko lebih tinggi untuk melalui proses persalinan dengan operasi sesar atau memiliki bayi dengan berat lahir rendah.

Sebuah riset lain yang diterbitkan pada jurnal Chest (jurnal kesehatan sejak 1935, meliputi penyakit dada dan isu-isu terkait) tahun 2000 menyimpulkan, mendengkur merupakan tanda dari peningkatan tekanan darah pada kehamilan dan dapat menjadi tanda terhambatnya pertumbuhan janin.

Penelitian ini juga menyatakan, Ibu hamil mengalami peningkatan dengkuran seiring dengan usia kehamilan, sebayak 6% di trimester kedua dan 24% saat memasuki trimester ketiga. Selain itu, 10% Ibu hamil yang mendengkur mengalami preeklamsia dengan peningkatan tekanan darah dan penambahan kadar protein pada urine, sementara yang tidak mendengkur hanya 4%.

Dalam studi lain pada 2013, peneliti dari University of Michigan’s Sleep Disorders Centre menyatakan, dengkur kronis pada Ibu hamil memiliki hubungan dengan berat bayi yang lebih rendah dan operasi sesar. Penelitian ini melibatkan 1673 partisipan dan lebih dari sepertiganya adalah Ibu hamil.

Menurut peneliti, Ibu hamil dengan dengkur kronis (yang mendengkur sebelum dan selama kehamilan) berpeluang 2/3 mempunyai berat bayi 10% lebih ringan dari berat normal. Mereka juga dua kali lebih berpeluang melahirkan secara sesar. Ibu hamil yang sudah mendengkur sebelum hamil juga berisiko mengalami operasi sesar dua kali lebih besar disbanding Ibu hamil yang baru mendengkur saat hamil.

Kekhawatiran lain dari efek buruk mendengkur adalah diabetes gestasional, yang menurut Centers for Disease Control and Preventation (lembaga kesehatan masyarakat nasional terkemuka di Amerika Serikat) mempengaruhi hingga 9,2% perempuan. Ini disebabkan ketika Ibu hamil tidak bisa mendapatkan cukup oksigen, yang menjadi salah satu dampak buruk mendengkur, dapat mengubah metabolisme glukosa Ibu.


Gangguan Napas Akibat Mendengkur Saat Hamil


Penyempitan saluran napas yang terjadi saat tidur menyebabkan tersumbatnya saluran napas. Akibatnya, walau ada gerak napas, udara tak ada yang masuk ataupun keluar. Napas tak terjadi. Seolah tercekik dalam tidur, terjadi reaksi berantai yang dimulai dari penurunan kadar oksigen hingga Ibu hamil terbangun. Tetapi, biasanya pendengkur tidak ingat dirinya terbangun-bangun sepanjang malam, ia hanya merasa tidak segar dan terus mengantuk di siang hari.

Kondisi henti napas di saat tidur ini disebut sleep apnea atau selengkapnya Obstructive Sleep Apnea (OSA). Pada orang dewasa, OSA merupakan salah satu penyebab utama terjadinya hipertensi dan juga menjadi penyebab berbagai gangguan jantung, peningkatan gula darah hingga stroke. Pada kehamilan pun tidak berbeda, mendengkur menyebabkan peningkatan tekanan darah atau gestational hypertension.

Henti napas dan bangun singkat berulang akan menyebabkan tubuh Ibu hamil mengalami stres (stres oksidatif). Sebagai respons, tekanan darah akan meningkat. Nah, karena henti napas tidur, oksigen dalam peredaran darah Ibu juga akan naik turun sepanjang tidur, bersama dengan gangguan metabolisme. Hal ini menyebabkan kualitas janin yang kurang baik, semisal kurang berat badan.

OSA juga dapat mengakibatkan preeklamsia, ditandai dengan hipertensi yang baru diderita saat kehamilan (140/90 mmhg). OSA dapat memicu preeklamsia lewat mekanisme penurunan kadar oksigen dan episode bangun berulang (tanpa sadar) yang akan meningkatkan aktivitas simpatis tubuh. Saraf simpatis/simpatik yang berfungsi untuk memacu dan mempercepat kerja organ-organ tubuh, seperti mempercepat detak jantung dan menyebabkan kontraksi pembuluh darah.


Mengatasi Dengkur Saat Hamil


Nah, apakah Ibu tidur mendengkur saat hamil? Coba tanyakan kepada Ayah, apakah saat tidur, Ibu mendengkur, berhenti bernapas sesaat ketika tidur malam, atau bernapas tersendat-sendat. Bila ya dan Ibu mendengkur lebih dari tiga malam dalam sepekan, tekanan darah naik, dan merasa ngantuk berlebihan di siang hari, ini tanda Ibu mengalami OSA.

Meski wajar bila mudah merasa lelah saat hamil, kalau Ibu ngantuk terus-menerus sepanjang hari dan tubuh terasa amat lelah, itu pertanda Ibu mendengkur saat tidur malam. Sebaiknya dikonsultasikan ke dokter, agar terhindar dari dampak berbahayanya.

Baik Ibu hamil yang mendengkur kronis maupun yang baru mulai mendengkur saat hamil, penanganannya sama saja. Ibu hamil akan melalui tahapan diagnosis di laboratorium tidur dengan menggunakan alat bernama polisomnografi (PSG). Dari pemeriksaan tersebut dapat diketahui jenis henti napas, derajat keparahan, gangguan aliran udara, kadar oksigen, kerja jantung, serta bagaimana kualitas tidur Ibu. Tentu saja, jika hasilnya hanya mendengkur tanpa gangguan napas, Ibu tidak perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Nah, setelah diagnosis ditegakkan, CPAP (Continous Positive Airway Pressure) dapat diberikan. Ibu hamil akan diajarkan bagaimana penggunaan CPAP yang sudah diberi petunjuk penyetelannya oleh dokter. CPAP adalah alat yang fungsinya meniupkan tekanan positif ke saluran napas lewat masker hidung. Tekanan positif tersebut akan menjaga saluran napas Ibu tetap membuka. Dengan begitu, proses henti napas pada saat tidur tak akan terjadi dan kadar oksigen tetap terjaga. Ibu hamil pun dapat tidur pulas.

CPAC untuk mengatasi mendengkur dan OSA ditemukan oleh Colin Sullivan. Bersama timnya, ia melihat efek mendengkur pada Ibu hamil terhadap janin, dengan cara merekam aktivitas janin lewat ultrasound. Semakin aktif gerak janin, semakin sehat pula janin tersebut. Hasilnya, gerak janin meningkat dari 319 saat Ibu hamil mendengkur menjadi 592 setelah dengkur diatasi dengan CPAP. Saat Ibu hamil tidur mendengkur, gerak janin menurun menjadi 7,4 per jam. Sementara saat mendengkur diatasi dengan CPAP, aktivitas janin meningkat menjadi 12,6 per jam.

Dengan menggunakan CPAP, dengkuran Ibu hamil bisa hilang, dan kondisi janin kembali optimal.