Monday, June 22, 2015

Pola Makan Ibu Hamil Saat Puasa Di Bulan Ramadhan

Pola Makan Ibu Hamil Saat Puasa Ramadhan
Pengaturan pola makan ibu hamil yang berpuasa di bulan Ramadhan, haruslah dilakukan secara cermat. Intinya adalah asupan nutrisi yang biasanya dilakukan siang hari diganti menjadi malam hari supaya kebutuhan nutrisi ibu dan janin tetap terpenuhi.

Seperti sudah dijelaskan, berpuasa saat hamil tidak akan mengganggu asupan nutrisi untuk janin. Pasalnya, tubuh ibu akan tetap memberikan nutrisi pada janin meski siang hari tidak masuk makanan dan minuman. Tubuh ibu akan menggunakan cadangan nutrisinya. Nanti, saat nutrisi masuk kembali ketika berbuka, maka cadangan nutrisi ini akan tergantikan. Untuk itu, di malam hari, ibu harus memenuhi kebutuhan nutrisinya. Berikut panduan pengaturan pola makan saat sahur dan berbuka di bulan Ramadhan agar puasa lancar dan ibu serta janin tetap sehat.



Saat Sahur


  • Atur  waktu bangun sahur, agar tidak terburu-buru dalam mempersiapkan masakan dan makan sahur. Jika semua dilakukan dengan tidak terburu-buru, maka sahur akan berjalan dengan baik.
  • Pilih makanan yang mengandung protein dan lemak dalam jumlah cukup. Kedua jenis zat gizi ini dapat bertahan lebih lama di pencernaan sehingga memperlambat rasa lapar di siang hari. Sebaiknya ibu banyak mengkonsumsi daging karena banyak mengandung kalori dan protein sangat tinggi yang bisa disimpan tubuh dalam waktu cukup lama.
  • Upayakan juga makanan yang kaya akan vitamin C dan mineral seng (zink) untuk menjaga vitalitas tubuh.
  • Jangan mengkonsumsi makanan manis saat sahur agar tubuh tidak lemas dan cepat merasa lapar akibat insulin syok.
  • Hindari makanan yang terlalu pedas karena akan membuat pencernaan terasa tidak nyaman. Hindari pula makanan yang terlalu asin karena akan membuat ibu cepat haus.
  • Usahakan makan sahur menjelang waktu imsak (sekitar satu atau setengah jam sebelumnya).
  • Sebaiknya hingga waktu sahur habis, usahakan minum air putih sebanyak-banyaknya. Jika bisa, minum air putih  selama sehari itu sebanyak dua liter, ditambah dengan segelas susu hangat. Minum segelas susu setiap sahur bisa mengurangi ancaman anemia bagi ibu hamil.
  • Jangan lupa minum suplemen atau obat yang diresepkan dokter. Misalnya, suplemen asam folat untuk menghindari kecacatan janin.


Saat Berbuka


  • Awali berbuka dengan minuman hangat dan manis untuk meningkatkan kadar gula darah, tetapi ibu juga tetap harus membatasi makanan dan minuman manis. Hindari minuman dingin karena dapat menurunkan kerja lambung.
  • Lanjutkan dengan menyantap makanan yang mengandung karbohidrat simpleks sehingga lebih mudah diserap tubuh, seperti kolak atau kurma.
  • Setelah salat magrib, makanlah dengan porsi lebih besar, tapi jangan langsung kalap. Makan dalam jumlah besar dapat membuat tubuh ibu menjadi lemas. Karena itu makan secukupnya saja.
  • Sehabis salat tarawih, usahakan untuk makan walau hanya sedikit. Ibu bisa minum susu kehamilan, air putih, suplemen, makan puding, kue kering, buah dan lainnya.
  • Sebelum tidur, untuk memproses produksi ASI, cobalah makan makanan ringan dengan minuman hangat.
  • Beberapa jenis makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari dalam pola makan ibu hamil waktu puasa adalah : makanan yang terlalu pedas, asam, bersoda, dan mengandung banyak lemak karena akan dapat memicu mual, minuman dingin karena dapat memicu kembung, juga makanan terlalu asin.



Tips Penting Lainnya


Ibu hamil tentu dalam menjalankan puasa akan sangat berbeda dengan saat tidak sedang hamil, diperlukan kiat-kiat khusus mengenai pola makan ibu hamil selama puasa agar puasa yang sedang dijalankan dapat benar-benar menjadi sebuah ibadah dan juga tetap menjadikan kehamilan senantiasa sehat.
  • Pertama dan paling penting, konsultasikan pada dokter ibu, yang lebih mengetahui riwayat dan keadaan kehamilan ibu.
  • Prinsip terpenting dalam pola makan ibu hamil saat puasa adalah nutrisi seimbang dan cairan yang cukup (minimal 2 liter air antara buka sampai sahur). Minum air, susu dan jus buah sebelum imsak.
  • Perhatikan kecukupan gizi dan mineral pada makanan yang ibu konsumsi, yaitu 50% karbohidrat, 25% lemak baik, serta 10-25% protein dan mineral.
  • Diet tinggi serat, sayuran, buah, protein (ikan, kacang-kacangan, dan lain-lain).
  • Hindari garam dan gula berlebihan, dan juga kafein (kopi).
  • Istirahat cukup dan beraktivitas dengan bijak sesuai kondisi tubuh.
  • Perhatikan kenaikan berat badan ibu. Jika selama puasa berat badan justru menurun, ibu perlu memperbaiki menu makanan ketika sahur dan berbuka.
  • Periksa kehamilan sesuai jadwal. Jika ibu merasa ada perubahan yang berbeda, seperti penurunan bobot tubuh atau bila gerakan bayi dalam kandungan tidak seaktif biasanya, segera konsultasikan dengan dokter kandungan. Beberapa tanda waspada / yang harus diperhatikan : kurangnya gerakan janin pada malam hari; kontraksi prematur; mual/muntah; sakit saat buang air kecil; demam; nyeri pinggang; lemas; kelelahan; pusing; dan sakit kepala.
  • Segera batalkan puasa jika ibu mengalami : muntah-muntah lebih dari 3 kali yang dikhawatirkan menyebabkan dehidrasi, diare yang diikuti dengan rasa mulas yang melilit; mimisan yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah, pertanda kondisi tubuh sudah tidak stabil; lemas, pusing diikuti dengan mata berkunang-kunang pertanda hipoglikemia, dikhawatirkan janin mengalami kekurangan gizi; keringat berlebih khususnya keringat dingin pertanda bahwa kondisi fisik ibu hamil sudah tidak kuat lagi untuk berpuasa.
Bila semua hal mengenai pola makan ibu hamil saat puasa diatas dipraktikkan dengan benar, walau ibu berpuasa penuh selama bulan Ramadhan, maka kesehatan ibu dan janin akan terjaga. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.


Saturday, June 20, 2015

Tips Menjalani Puasa Ramadhan Untuk Ibu Hamil

tips puasa ramadhan untuk ibu hamil
Bulan Ramadhan telah tiba dan tidak terkecuali bagi ibu hamil, tentu saja ingin juga menjalani puasa di bulan Ramadhan ini. Lalu, apakah ibu hamil boleh puasa Ramadhan? Tentu saja keinginan ini adalah keinginan yang wajar saja, hanya saja hal ini harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. Jika dokter mengijinkannya, maka ibu hamil dapat berpuasa selama bulan Ramadhan yang suci ini.

Puasa di bulan yang suci ini, tentu saja pada awalnya akan terasa berat. Tetapi niat kuat dan dengan dukungan suami, tentu ibu akan dapat berpuasa sebulan penuh.



Manfaat Puasa Ramadhan Bagi Ibu Hamil


Sebetulnya terdapat beberapa manfaat dari puasa Ramadhan bagi ibu yang sedang hamil. Apalagi kehamilan memang bukanlah halangan untuk berpuasa. Jika kondisi ibu dan janin memang sehat, tentu akan lebih baik jika berpuasa. Apalagi berpuasa Ramadhan memungkinkan kita semua untuk mendapatkan asupan nutrisi yang sama seperti di waktu lain. Hanya waktunya saja yang bergeser.

Aktivitas menyusui tidak akan terganggu meski di siang hari tidak ada makanan dan minuman yang masuk ke tubuh ibu. Karena ibu yang sehat sebetulnya memiliki cadangan nutrisi. Setelah berbuka puasa dan makan dengan porsi cukup, cadangan nutrisi ini akan tergantikan.

Jika waktu berpuasa diisi dengan kegiatan serta pola makan yang baik, maka ibu hamil justru akan menjadi lebih sehat. Berbagai penyakit degeneratif dapat dicegah atau diturunkan resikonya, seperti gangguan hiperkolesterol, jantung koroner, dan kencing manis. Karena dengan menahan nafsu untuk tidak mengkonsumsi makanan secara berlebihan, asupan yang masuk pun jadi terseleksi.

Tak hanya itu, saat puasa, sel darah putih akan lebih aktif membangun kekebalan tubuh. Organ pencernaan pun lebih sehat karena mendapat kesempatan beristirahat yang lebih panjang di siang hari. Detoksifikasi juga terjadi karena saat puasa, tubuh menghasilkan antioksidan yang membersihkan zat-zat bersifat racun dari dalam tubuh.

Ibu hamil yang sehat tentu memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memiliki janin yang juga sehat.



Amankah Ibu Hamil Puasa Ramadhan ?


amankah ibu hamil puasa ramadhan
Ini adalah suatu pertanyaan yang sangat sering muncul. Sejumlah penelitian telah membuktikan, puasa Ramadhan pada wanita hamil tidak akan berefek buruk pada janin, baik pertumbuhan dan kesehatan janin maupun kecerdasannya. Bahkan, berpuasa Ramadhan saat hamil juga tidak mengakibatkan kelahiran prematur. Inilah beberapa hasil penelitian tersebut :
  • Penelitian di malaysia terhadap 605 ibu hamil yang berpuasa menunjukkan tidak ada efek pada berat badan si ibu dan berat badan bayi baru lahir.
  • Gambaran kardiotokografi (catatan denyut jantung dan gerakan janin) menunjukkan hasil yang tidak reaktif selama fase puasa, namun kembali reaktif setelah berbuka puasa. Penelitian lain membuktikan, ibu hamil yang berpuasa tidak memiliki efek pada prematuritas dan skor apgar bayi baru lahir.
  • Penelitian menyimpulkan, puasa Ramadhan ketika hamil tidak berefek pada kecerdasan (IQ) anak setelah dewasa.
  • Penelitian yang dilakukan menyimpulkan, puasa Ramadhan saat hamil tidak akan berefek pada pertumbuhan dan kesehatan janin, serta tidak menyebabkan ketonemia (suatu kondisi berbahaya yang dapat mematikan).


Tidak Ada Komplikasi


Namun perlu dipahami, dari sisi medis, tidak semua ibu hamil dapat berpuasa selama bulan Ramadhan. Sekali lagi, agama pun mengizinkan ibu hamil tidak berpuasa. Pertimbangannya, kehamilan mungkin saja membuat kondisi ibu menjadi lemah. Banyak ibu hamil yang mengalami muntah-muntah di trimester pertama atau merasakan ketidaknyamanan luar biasa karena janin mulai besar? Jadi, jika memang ibu tidak kuat berpuasa, kondisi tubuh tak memungkinkan, sebaiknya tidak memaksakan diri.

Pastinya, jika ibu mengalami komplikasi kehamilan berikut ini, sebaiknya tidak berpuasa : perdarahan kehamilan, hipertensi, preeklamsia, muntah-muntah parah, diabetes, plasenta previa, riwayat gangguan nafsu makan (anoreksia atau bulimia), gangguan sistem pencernaan, riwayat batu ginjal, riwayat persalinan prematur, riwayat keluaran persalinan jelek, kurang gizi dan semua kondisi yang mengharuskan ibu hamil minum obat sepanjang hari.

Selain itu, ibu hamil yang menginjak umur kehamilan 9 bulan, juga dianjurkan tidak berpuasa. Penelitian yang dilakukan menyimpulkan, kadar gula darah ibu hamil di trimester 3 yang menjalankan puasa ramadhan lebih rendah dibanding yang tidak. Itulah mengapa, menginjak usia kehamilan 9 bulan, ibu sebaiknya tidak berpuasa. Kadar gula darah ibu yang cukup, berguna untuk tenaga saat melahirkan.

Untuk itu, sebelum berpuasa, ibu dianjurkan berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter. Jika setelah dilakukan pemeriksaan, ibu dinyatakan sehat dan dokter pun mengizinkan, maka silahkan ibu menjalankan puasa Ramadhan. Namun ingat jangan memaksakan diri. Jika ibu mulai merasa tidak nyaman atau kurang sehat, tak mengapa membatalkan puasa. Ingat, ada si buah hati yang sedang tumbuh dan berkembang di rahim ibu.