Tuesday, February 9, 2016

Apa yang Dimaksud Dengan Kehamilan Resiko Tinggi ?

kehamilan resiko tinggi, latar belakang kehamilan resiko tinggi, kehamilan risiko tinggi, kehamilan beresiko tinggi, faktor resiko tinggi kehamilan, kehamilan resiko tinggi ibu hamil, kehamilan berisiko tinggi, penyakit kehamilan resiko tinggi, faktor resiko tinggi pada kehamilan, tanda tanda kehamilan resiko tinggi, pengertian kehamilan risiko tinggi, kriteria kehamilan beresiko tinggi
Baru mendengar mengenai kehamilan resiko tinggi saja sudah bikin hati menciut, apalagi jika harus menjalaninya. Namun, jangan khawatir, ada acara untuk memperkecil resikonya.

Secara sederhana, kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang dapat menyebabkan komplikasi pada Ibu, bayi, maupun keduanya. Ada sejumlah faktor resiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi kehamilan alias kehamilan beresiko tinggi, yaitu :


Faktor-Faktor Resiko


Usia Saat Hamil. Ibu yang hamil di bawah usia 17 tahun atau di atas 35 tahun lebih berpotensi mengalami komplikasi kehamilan. Resiko keguguran dan kelainan genetik akan meningkat jika Ibu hamil di atas usia 40 tahun. Sementara, organ reproduksi yang belum matang pada Ibu hamil di bawah usia 17 tahun akan meningkatkan resiko kelahiran prematur.

Penyakit Yang Menyertai Sebelum Kehamilan. Kehamilan dikategorikan kehamilan beresiko tinggi bila Ibu memiliki tekanan darah tinggi, gangguan ginjal, gangguan jantung, diabetes, penyakit autoimun seperti lupus, asma, kanker, hingga talassemia. Begitu pula jika Ibu memiliki masalah obesitas atau sebaliknya, berat badan rendah (underweight), juga mengalami masalah infeksi akut, seperti infeksi akibat penyakit menular seksual.

Riwayat Kesehatan. Ibu dengan riwayat keguguran berulang, pernah mengalami komplikasi pada kehamilan sebelumnya atau riwayat penyakit kelainan genetik dalam keluarga, berpotensi mengalami kehamilan beresiko tinggi. Ada kemungkinan kejadian tersebut berulang pada kehamilan berikutnya. Begitu pula jika Ibu pernah mengalami trauma/benturan hebat yang mempengaruhi organ reproduksi, semisal benturan pada panggul sehingga membuat panggul menjadi sempit.

Kehamilan Kembar. Kehamilan kembar meningkatkan resiko perdarahan pada saat prose persalinan terjadi. Selain itu, umumnya ukuran bayi tidak akan sama, yang satu akan lebih kecil dari yang lain dan posisinya pun melintang. Kemungkinan kelahiran dini atau prematur akan meningkat dalam kehamilan kembar. Selain karena faktor keturunan, Ibu yang hamil melalui program bayi tabung juga berpotensi mengalami kehamilan kembar.

Riwayat Kelahiran Prematur. Disebut prematur jika bayi lahir sebelum usia 37 minggu. Kelahiran prematur pada kehamilan sebelumnya bisa berulang pada kehamilan berikutnya. Oleh karena itu, Ibu hamil dengan riwayat kelahiran prematur digolongkan memiliki kehamilan beresiko tinggi. Sementara, kelahiran prematur itu sendiri bisa disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya infeksi pada Ibu hamil dan mulut rahim yang memendek sebelum waktunya (inkompetensi serviks), selain factor riwayat kelahiran prematur itu sendiri.


Komplikasi Kehamilan


Selain faktor-faktor resiko, komplikasi kehamilan juga bisa membuat kehamilan digolongkan beresiko tinggi. Pada awalnya kehamilan berjalan sehat tanpa masalah apa pun, tetapi di tengah perjalanannya, muncul komplikasi yang mengubah status kehamilan menjadi beresiko tinggi. Ini beberapa komplikasinya :

Preeklamsia. Usia muda, riwayat preeklamsia atau tekanan darah tinggi pada kehamilan sebelumnya, malnutrisi, kehamilan kembar, kehamilan mola hedatidosa, serta Ibu hamil dengan kondisi medis tertentu seperti penyakit jantung, kelainan tiroid, gangguan ginjal, diabetes, maupun penyakit lupus bisa meningkatkan resiko preeklamsia. Bila wajah dan tangan Ibu tiba-tiba sangat membengkak, bisa jadi hal tersebut merupakan gejala preeklamsia. Begitu pula jika tekanan darah Ibu tiba-tiba melonjak tinggi. Dokter ahli kandungan akan memastikan diagnosis melalui pemeriksaan tekanan darah dan urine.

Plasenta Previa. Kondisi ini terjadi ketika plasenta menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Semestinya plasenta tumbuh di bagian atas rahim, tetapi karena sejumlah faktor, plasenta tumbuh di bagian bawah rahim. Bila Ibu mengalami perdarahan melalui vagina tapi tanpa rasa nyeri, bisa jadi itu salah satu gejalanya. Plasenta previa dapat terdeteksi melalui pemeriksaan USG setelah minggu ke 12 kehamilan.

Diabetes Kehamilan (Gestational Diabetes). Sebanyak 18% Ibu hamil mengalami diabetes kehamilan. Hal ini disebabkan perubahan hormonal yang terjadi saat hamil. Jika kadar darah Ibu hamil tidak dikontrol, janin berat badan lahir bayinya nanti bisa melebihi 4 kg. Berat badan besar seperti ini meningkatkan resiko bayi tersangkut saat persalinan dan resiko bayi mengalami penyakit degeneratif di masa depan (saat dewasa), seperti : diabetes, jantung, dan obesitas. Selain itu, diabetes kehamilan juga meningkatkan resiko preeklamsia, kelahiran prematur, hingga resiko diabetes menetap dan penyakit jantung pascapersalinan pada Ibu.

Menurut penelitian yang dilakukan University California of San Fransisco, jumlah kehamilan beresiko tinggi sebetulnya hanya 6-8% dari semua kehamilan. Jika dengan membaca penjelasan tadi Ibu merasa termasuk dalam beresiko tinggi, ambilah langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kesehatan diri serta janin di kandungan.


Apa Yang Harus Dilakukan Dengan Kehamilan Resiko Tinggi?


Melakukan kontrol teratur pada dokter kandungan dan kebidanan (obstetric dan ginekologi/obgin) merupakan suatu keharusan. Misal, jika Ibu telah memiliki riwayat kelahiran prrematur, dokter akan memeriksa apakah Ibu mengalami inkompetensi serviks. Jika ya, maka dokter akan melakukan pengikatan mulut rahim untuk mencegah mulut rahim memendek dan terbuka sebelum waktunya.

Bila Ibu diketahui memiliki penyakit tertentu, seperti diabetes mellitus atau tekanan darah tinggi, dokter akan memberi cara mengontrolnya. Begitu pula jika Ibu diketahui mengidap penyakit jantung, infeksi, kelainan kromosom, atau obesitas.

Dalam menangani sebuah kehamilan beresiko tinggi, biasanya dokter kandungan akan bekerja sama dengan dokter spesialis lain, semisal spesialis penyakit jantung jika Ibu hamil mengidap gangguan jantung.

Segera setelah tahu kondisi kehamilan termasuk beresiko tinggi, berkonsultasilah pada dokter kandungan sub spesialis fetomaternal. Dokter sub spesialis ini mempunyai keahlian mendiagnosis atau mendeteksi kelainan pada janin (fetus) atau Ibu (materna). Pemeriksaan fetomaternal meliputi deteksi dini kelainan genetic dan kromosom pada janin hingga pemeriksaan kelainan darah seperti talassemia.

Selanjutnya, agar selalu dapat memantau kesehatan kehamilan, Ibu harus rutin memeriksakan diri pada dokter kandungan dan melakukan minimal empat kali pemeriksaan USG selama masa kehamilan. Segera komunikasikan pada dokter jika Ibu hamil merasakan gangguan kesehatan, sekalipun belum tiba saatnya jadwal untuk kembali kontrol rutin kehamilan.

Dokter kandungan yang baik akan menginformasikan segala gejala yang perlu diwaspadai terkait kondisi kesehatan Ibu. Misalnya, jika Ibu mengidap tekanan darah tinggi, dokter akan meminta Ibu segera ke dokter jika mengalami pusing hebat, pandangan kabur, dan muncul rasa mual, karena itu semua merupakan sebagian gejala preeklamsia. Dengan kontrol yang teratur, diharapkan resiko yang ada tentunya bisa ditekan.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.