Monday, February 29, 2016

Cara Mendeteksi Kelainan Kromosom Pada Janin

deteksi kelainan kromosom pada janin, deteksi kelainan kromosom, cara mendeteksi kelainan kromosom, kelainan kromosom pada janin, kelainan kromosom pada kehamilan, kelainan kromosom, kelainan kromosom pada bayi
Dalam beberapa kasus, dokter akan melakukan pemeriksaan khusus untuk melihat kelainan yang mungkin terjadi pada janin. Salah satunya, pemeriksaan amniosintesis. Pemeriksaan amniosintesis adalah cara untuk mendeteksi kelainan kromosom pada janin.

Mendapati janin senantiasa dalam kondisi sehat pasti jadi dambaan semua Ibu hamil. Ada banyak cara yang bisa Ibu hamil lakukan untuk menjaga kesehatan sang buah hati, dari mengkonsumsi makanan bergizi, mengasup cairan yang cukup, rutin berolahraga, cek kehamilan rutin, hingga meminum vitamin khusus kehamilan yang diresepkan oleh dokter ahli kandungan.

Namun, adakalanya Ibu dan dokter memerlukan usaha lebih untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan janin, yaitu dengan mengambil sedikit sampel air ketuban. Proses ini dikenal dengan nama Amniocentesis (amniosentesis), yakni sebuah tindakan medis untuk mendiagnosis lebih dalam tentang kesehatan janin dalam kandungan melalui pengambilan sampel cairan ketuban yang mengelilingi janin. Umumnya, prosedur ini dilakukan di awal trimester kedua, tepatnya pada usia kehamilan sekitar 15-18 minggu.

Air ketuban diambil menggunakan jarum suntik berlubang kecil yang dimasukkan melalui perut ke dalam Rahim. Tentu saja, dokter akan melakukan bius lokal sehingga tidak menimbulkan rasa sakit. Selama pemeriksaan pun, dokter akan senantiasa memantau kondisi janin melalui USG (ultrasonografi) sehingga tindakan ini tak akan menyakiti janin Ibu.

Tujuan utama dilakukan amniosentesis ialah mendeteksi ada tidaknya kelainan kromosom yang mungkin dialami oleh bayi. Kromosom membawa gen yang mewariskan beberapa karakter orangtua kepada anaknya. Normalnya, seseorang akan memiliki 46 kromosom yang diwariskan oleh kedua orangtua. Kelainan kromosom pada janin bisa timbul bila sang bayi mengalami kekurangan atau kelebihan kromosom. Beberapa kelainan kromosom atau kelainan bawaan yang sifatnya kromosomal, di antaranya : sindrom Down, sindrom Turner, dan sindrom Klinefelter.

Salah satu kelainan kromosom pada bayi yang paling sering terjadi adalah, sindrom Down. Gangguan genetika ini menyebabkan keterbelakangan mental, sehingga dalam pertumbuhannya, anak akan mengalami perbedaan kemampuan belajar maupun perbedaan fisik tertentu dengan anak-anak lain pada umumnya.

Selain untuk mendeteksi kelainan kromosom pada janin, amniosentesis juga dilakukan untuk mendeteksi beberapa kasus lain, seperti : kemungkinan infeksi, mengetahui jenis kelamin janin saat pemeriksaan dengan USG tak bisa mendeteksi, mengetahui kematangan paru, maupun mengurangi jumlah air ketuban pada kasus air ketuban berlebih.


Ibu Hamil Yang Berisiko Mempunyai Kelainan Kromosom Pada Janinnya


Tentu saja, tidak semua Ibu hamil perlu untuk menjalani proses amniosentesis. Namun, bila Ibu mendapati minimal satu dari beberapa riwayat ini, ada baiknya segera dibicarakan dengan dokter ahli kandungan :
  • Ibu hamil dengan usia 35 tahun atau lebih. Pasalnya, bayi yang dilahirkan oleh perempuan usia di atas 35 tahun dinilai lebih berisiko mengalami kelainan kromosom.
  • Pernah memiliki anak dengan sindrom Down atau kelainan kromosom lain sebelumnya. Sangat penting untuk membicarakan hal ini kepada dokter ahli kandungan guna mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi pada anak kedua dan selanjutnya.
  • Memiliki anggota keluarga dekat yang mengalami kelainan kromosom. Tidak ada salahnya bila Ibu dan Ayah merunut kembali anggota keluarga sejak kini.
  • Ibu hamil maupun janin dengan kondisi kesehatan tertentu, sehingga dokter menyarankan untuk dilakukannya proses amniosentesis, seperti : infeksi, kasus ketuban berlebih, mengetahui kematangan paru, dan lainnya sesuai ajuan dokter.


Minimalkan Risiko Dengan Tepat


Komplikasi atau risiko dari tindakan amniosentesis bisa dibilang sangat minim jika dilakukan oleh tenaga medis  yang kompeten dan dijalankan dengan hati-hati. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter ahli kandungan sebelum menjalani tindakan ini, tentang apa saja keuntungan yang didapat, apakah sebanding dengan risiko yang mungkin timbul.

Beberapa risiko yang mungkin ditimbulkan oleh tindakan amniosentesis, antara lain : keguguran, terutama bila amniosentesis dilakukan pada usia kehamilan di bawah 15 minggu; trauma pada organ janin, apabila jarum suntik mengenai bagian tubuh janin; korioamnionitis atau infeksi selaput ketuban yang bisa berakhir dengan keguguran; serta kemungkinan terjadinya kelainan bentuk anggota gerak janin (talipes) walau sangat jarang terjadi.

Karena proses amniosentesis memiliki risiko, sebelum dilakukannya tindakan, rumah sakit biasanya meminta Ibu untuk melengkapi dan menandatangani dokumen yang berkaitan dengan tindakan, sehingga sebaiknya Ibu dan Ayah memahami isi ‘perjanjian’ yang tertera dalam dokumen tersebut.
Beberapa tahapan prosedur ini bisa menjadi acuan dalam mendapatkan proses yang aman.
  • Dokter akan melakukan anestesi lokal di daerah tindakan, yaitu bagian perut Ibu.
  • Dengan panduan USG, dokter akan mencari area yang aman, kemudian memasukkan jarum ke dalam perut Ibu menembus dinding perut, lalu dinding Rahim, dan akhirnya kantung amnion.
  • Air ketuban pun diambil, kurang lebih sebanyak 20 cc. air ketuban lantas dibawa ke laboratorium untuk dianalisis. Lama hasil pemeriksaan bisa berbeda, bergantung pada prosedur rumah sakit, biasanya sekitar 2-4 minggu.

Selain mendiskusikan manfaat dan risiko, Ibu dan Ayah juga disarankan untuk memikirkan langkah-langkah selanjutnya ketika hasil dari amniosentesis sudah keluar. Ibu dan Ayah bisa terus mendiskusikannya dengan dokter ahli kandungan dan anggota keluarga sebelum dan setelah proses amniosentesis berlangsung.


Perawatan Pasca Tindakan


Ibu hamil yang menjalam\ni tindakan amniosentesis tidak memerlukan perawatan khusus seperti rawat inap ataupun konsumsi obat-obatan. Ibu hamil bisa menjalani aktivitas seperti sediakala beberapa jam setelah proses tersebut selesai. Namun, bila Ibu hamil mengalami satu atau lebih kondisi ini pasca dilakukannya tindakan, segera hubungi dokter tanpa menunda :
  • Terjadi rembesan air ketuban dari vagina. Bila Ibu merasa miss V terus menerus lembab dan basah selain dari air kencing, kemungkinan besar telah terjadi kebocoran air ketuban.
  • Area Rahim atau perut bagian bawah mengalami sakit yang tidak biasa.
  • Terjadi flek atau perdarahan.
  • Komplikasi kesehatan lain, seperti : demam, nyeri pada anggota tubuh, serta mengalami mual dan muntah yang sering.

Monday, February 22, 2016

Apa Yang Dimaksud Dengan Kehamilan Kosong dan Cara Mengatasinya

kehamilan kosong, cara mengatasi kehamilan kosong, kehamilan kosong atau blighted ovum, kehamilan kosong blighted ovum, apa penyebab kehamilan kosong
Bagaimana bisa terjadi kehamilan kosong? Padahal hasil testpack menunjukkan positif hamil. Ibu juga merasa mual, nyeri pada payudara, dan tanda-tanda kehamilan lainnya. Tetapi, memasuki minggu ke 8 kehamilan, dokter menyatakannya sebagai kehamilan kosong. Kok, bisa ya?

Kehamilan kosong (blighted ovum / BO) atau kehamilan anembrionik adalah salah satu bentuk keguguran di awal kehamilan. Kondisi ini didiagnosis melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) dimana terdapat gambaran kantung kehamilan (biasanya ukuran lebih dari 20 mm) tanpa gambaran embrio yang berkembang di dalamnya.

Uniknya, saat hasil pemeriksaan menyatakan kehamilan itu kosong, sering kali Ibu masih tetap merasakan berbagai keluhan awal kehamilan, seperti mual, nyeri pada payudara, dan muntah-muntah. Bahkan, Ibu tidak merasakan adanya kelainan pada kehamilannya. Nah, ternyata keluhan-keluhan seperti itu tidak selalu menandakan janin berkembang dengan baik atau tidak, karena kenaikan kadar hormon kehamilanlah yang mempunyai peran.

Namun, pada beberpa kasus, ada pula yang disertai dengan flek-flek di awal kehamilan. Hal ini terjadi karena mekanisme tubuh secara alami berusaha mengeluarkan hasil konsepsi/pembuahan yang tidak normal. Keadaan ini biasanya ditemukan di usia kehamilan antara 8-13 minggu, saat pemeriksaan rutin kehamilan.

BO memang terjadi akibat pertemuan sel telur dan sel sperma hingga terjadi pembuahan. Lalu sel-sel itu membentuk kantung ketuban, plasenta dan hormon Human Chrionic Gonadtrophin (hCG). Hormon inilah yang memberi sinyal bahwa kehamilan sudah terjadi dengan tanda positif.

Kantung ketuban juga akan terus berkembang layaknya kehamilan normal, padahal sel telur yang telah dibuahi gagal untuk berkembang secara sempurna. Tak heran, BO akan dirasakan sebagai kehamilan yang normal.


Penyebab Kehamilan Kosong (BO)


Sebagian besar penyebab kehamilan kosong (BO) terjadi karena adanya kesalahan di awal pembentukan embrio, misalnya kelainan kromosom. Biasanya sangat jarang disebabkan oleh kelainan atau hal-hal lain yang terjadi pada kedua orangtua.

Tahun 2007, peneliti dari The National Center for Biotechnology Information (NCBI, bagian dari NLM : National Library of Medicine di Amerika Serikat) menganalisis bahan genetic dari hampir 100 BO dan menemukan lebih dari dua pertiga (2/3) dari mereka memiliki kromosom yang tidak normal. Dalam banyak kasus, telur atau embrio memiliki kromosom lebih banyak disbanding jumlah normalnya, yaitu 46, atau sebaliknya kekurangan kromosom.

Karena penyebab tersering kehamilan anembrionik ialah adanya kesalahan pada saat awal pembentukan embrio, yaitu kelainan kromosom yang bersifat acak, maka kejadian ini tidak dapat kita cegah. Kabar baiknya, biasanya kehamilan anembrionik merupakan kejadian acak sehingga sangat jarang terulang kembali.


Prosedur Mengatasi Kehamilan Kosong (BO)


Setelah dokter mendiagnosis terjadinya BO, ada beberapa pilihan untuk prosedur dan cara untuk mengatasi kehamilan kosong tersebut, yaitu manajemen ekspektatif, medikamentosa (istilah kedokteran berkenaan dengan obat-obatan dalam pengobatan atau perawatan penyakit), dan pembedahan (kuretase/kuret). Berikut penjelasannya :


Manajemen Ekspektatif. Dapat dipilih bila tidak ada perdarahan aktif, tanda infeksi, serta Ibu Bapak sudah mendapatkan penjelasan mengenai kemungkinan rasa nyeri atau perdarahan yang dapat muncul di rumah selama proses menunggu dan memutuskan.

Indikator dari manajemen ekspektatif ditentukan oleh keadaan umum Ibu dan pekembangan kondisi kehamilan dalam kurun waktu dua minggu ke depan, jika terdapat hal-hal yang mengganggu atau Ibu berubah pikiran, maka perlu dipertimbangkan terapi pembedahan.


Manajemen Medikamentosa. Manajemen ini juga hanya dapat dilakukan apabila tidak ada perdarahan aktif pada Ibu ataupun tanda infeksi. Ibu dan Bapak juga harus mengetahui kemungkinan rasa nyeri berlebihan dan perdarahan yang dapat terjadi selama pemberian obat. Ibu juga harus mengetahui kemungkinan efek samping yang dapat terjadi pasca pemberian obat, seperti : mual, muntah, dan diare (biasanya mencapai 40%).

Selama pemberian obat, sebaiknya Ibu dirawat inap di rumah sakit. Kalaupun dirawat jalan, perlu mendapat penjelasan detail mengenai kondisi gawat darurat yang dapat terjadi serta cara mencari pertolongannya. Bila hasil konsepsi tidak juga keluar dalam satu minggu, perlu dilakukan tindakan pembedahan.


Manajemen Pembedahan (Kuretase). Pada manajemen ini terdapat kelebihan dibandingkan dua prosedur sebelumnya, yaitu lebih sedikit darah yang dikeluarkan dan durasinya lebih cepat. Kuret isap memiliki angka keberhasilan 100%. Walaupun demikian, kuretase memiliki risiko adanya perforasi (pelubangan) rahim, infeksi, ataupun risiko dari pembiusan.


Kapan Bisa Hamil Lagi


Untungnya, kehamilan kosong (BO) tidak berpengaruh pada rahim atau kesuburan. Jadi, Ibu dapat kembali hamil normal. Setelah menjalani pembersihan sisa konsepsi/kehamilan, Ibu akan menjalani periode seperti nifas pascapersalinan, tetapi lebih singkat dari kehamilan normal. Setelah proses itu, kesuburan Ibu dapat segera kembali. Ada baiknya sebelum memutuskan untuk hamil yang berikutnya, konsumsi suplemen asam folat sesuai anjuran dokter.

Waktu hamil yang tapat setelah keguguran sering diperdebatkan di dunia medis, semuanya memiliki pendapat masing-masing. World Health Organization (WHO, Organisasi Kesehatan Dunia) menganjurkan jeda waktu setidaknya selama enam bulan sebelum mencoba hamil kembali. Anjuran ini berdasarkan penelitian yang dilakukan para peneliti dari University 0f Aberdeen, Inggris, yang disimpan oleh Chief Scientist Office di Skotlandia dan dipublikasikan oleh British Medical Journal. Penelitian yang dilakukan pada 30.000 perempuan Skotlandia ini menerangkan, perempuan yang mengalami kehamilan dalam jarak waktu enam bulan setelah keguguran dapat mengurangi risiko keguguran untuk kedua kalinya di kehamilan berikutnya.

Akan tetapi, peelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Yang paling penting, penelitian tidak menyebutkan apakah penundaan antara kehamilan dan keguguran berikutnya adalah karena pasangan memilih untuk menunggu sebelum mencoba lagi atau disebabkan oleh kesulitan terjadinya pembuahan. Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan, kehamilan bisa sukses segera setelah keguguran. Meskipun begitu, kesehatan fisik serta emosional Ibu dan Ayah harus disiapkan dengan baik sebelum mencoba hamil lagi. Sekaligus meningkatkan kemungkinan kehamilan sehat di kehamilan berikutnya.


Dampak Kehamilan Kosong (BO)


Mengalami keguguran, baik itu di periode sangat awal kehamilan maupun sudah lebih lanjut, tentu dapat menimbulkan stress, baik Ibu maupun Ayah, terutama ketika Ibu dan Ayah sudah mengharapkan hadirnya si buah hati.

Ya, setiap anak yang tidak sempat lahir, bahkan ketika ia masih berbentuk embrio, memang tak akan tergantikan oleh anak berikutnya. Namun, yakinlah bahwa ini merupakan proses seleksi alam yang terbaik. Yakinlah, pengalaman ini akan semakin membuat Ibu dan Ayah kuat dan bersyukur kala mendapatkan kehamilan normal di waktu berikutnya. Kita memang bisa merencanakan, tapi hanya Tuhan yang Maha menentukan. Yang terpenting, kita harus yakin, Tuhan selalu memberi jalan yang terbaik bagi kita.

Monday, February 15, 2016

Tips Cara Menjaga Kehamilan Agar Tetap Sehat dan Kuat Sampai Melahirkan

Tips Cara Menjaga Kehamilan Agar Tetap Sehat dan Kuat Sampai Melahirkan, cara sehat ibu hamil, kehamilan yang sehat, kehamilan sehat, cara menjaga kehamilan agar tetap sehat, menjaga kehamilan agar tetap sehat, tips hamil sehat sampai melahirkan, tips menjaga kehamilan agar tetap sehat, tips agar kehamilan sehat dan kuat, tips agar hamil sehat
Kehamilan yang dianggap membahagiakan tidak bisa dilepaskan dari kehamilan yang sehat dan kuat sampai saat melahirkan. Untuk itu, ada 5 langkah penting yang harus Ibu perhatikan dan lakukan seperti berikut ini :


Langkah 1 : Konsumsi Makanan Bernutrisi Seimbang


Ibu adalah satu-satunya sumber nutrisi si kecil di dalam kandungan. Untuk itu, dianjurkan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang agar tercukupi kebutuhan akan zat-zat gizi bagi diri Ibu hamil sendiri dan terlebih lagi untuk janin yang sedang tumbuh dan berkembang di dalam kandungan.
Kekurangan nutrisi, baik makro (karbohidrat, protein, lemak) maupun mikro (vitamin, mineral), akan berdampak pada kualitas kesehatan Ibu sendiri dan anak yang dilahirkan kelak.

Nutrisi makro adalah zat pembentuk tubuh dan sumber energi. Kurang akan nutrisi makro berpengaruh terhadap berat badan (BB). Ibu menjadi kurus dan lemas. Idealnya, kenaikan BB adalah 1-2 kg/bulan. Selain itu, supply nutrisi dari Ibu kepada janin juga akan berkurang, sehingga membuat janin memiliki berat badan tidak normal, pertumbuhan janin pun akan terhambat dan pada akhirnya hal ini akan mempengaruhi kecerdasannya juga.

Bila kekurangan nutrisi mikro, utamanya zat besi dan asam folat, janin akan berisiko cacat. Satu dari dua Ibu hamil di Indonesia, terindikasi menderita anemia (kurang darah), HB-nya kurang dari 10. Studi yang dilakukan oleh SEAFAST Center IPB pada 2011 juga menunjukkan lebih dari 60% Ibu hamil di Indonesia memiliki asupan nutrisi mikro (seperti : zat besi, vitamin A, vitamin C, asam folat, dan seng) yang rendah. Maka dari itu, dokter kandungan harus memberikan tambahan zat besi kepada Ibu hamil. Jika tidak, Ibu dan janinnya akan kekurangan gizi. Sedangkan kita tahu, gizi otak/IQ bayi itu perlu oksigen yang diperoleh dari darah/zat besi dan asam folat yang berperan dalam membantu mengurangi risiko Neural Tube Defect (cacat otak dan tabung saraf) pada janin di dalam kandungan.
Nah, untuk memenuhi kecukupan nutrisi Ibu hamil, yang terpenting adalah harus makan teratur dan mengkonsumsi makanan beraneka ragam dalam porsi yang seimbang. Jadi, jangan hanya banyak mengkonsumsi karbohidrat (seperti : nasi, roti, kentang), tetapi juga harus mencoba bermacam-macam makanan sehat, yaitu sayuran hijau (kaya akan asam folat dan besi), protein dan lemak hewani (ikan, telur dan daging) dan nabati (kacang-kacangan, minyak zaitun), serta buah-buahan.

Bagaimana dengan susu? Susu bisa menjadi pelengkap nutrisi, terutama untuk Ibu hamil yang mengalami gangguan kurangnya asupan di trimester pertama akibat mual, muntah, dan tidak nafsu makan. Umumnya, susu kehamilan sudah mempunyai komposisi yang baik untuk Ibu hamil, diantaranya zat besi (mencegah anemia, kelahiran dini, dan berat bayi lahir rendah), asam folat (berperan penting dalam pembentukan saraf dan otak janin), kalsium (berperan dalam pembentukan dan mempertahankan kepadatan tulang dan gigi), dan asam linoleat alias omega-6 (bersama dengan omega-3 berperan dalam pembentukan pembungkus saraf). Konsumsi segelas susu khusus kehamilan dapat membantu memenuhi kecukupan gizi Ibu hamil demi terwujudnya kehamilan yang sehat.


Langkah 2 : Secara Teratur Periksa Kehamilan


Tujuannya untuk mengetahui ada tidaknya risiko selama kehamilan. Misal, si Ibu mempunyai hipertensi (darah tinggi), bisa berisiko mengalami preeklamsia. Nah, dengan melakukan periksa hamil, tekanan darahnya akan terpantau, sehingga dapat terhindar dari preeklamsia. Sementara pada janin, dengan alat USG, bisa diketahui standar tumbuh kembang janin, posisi/letak janin, dan ada tidaknya gangguan perkembangan janin. Bila diketahui ada masalah/gangguan, bisa dilakukan penanganan yang tepat oleh dokter kandungan.

Dianjurkan periksa hamil setiap bulan atau minimal 4 kali selama kehamilan. Agar tidak lupa kontrol ke dokter, siapkan jadwal kapan harus cek ke dokter, cek darah, dan lain-lain. Juga, siapkan daftar pertanyaan untuk disampaikan kepada dokter. Saat periksa hamil, sampaikan juga keluhan-keluhan yang dirasakan/alami, semisal kaki bengkak, gerakan janin berkurang atau malah terlalu aktif, sesak napas, pusing dan sebagainya. Untuk itu, carilah dokter yang kooperatif jika diberikan pertanyaan-pertanyaan dan mau mendengarkan keluhan-keluhan dari Ibu hamil, serta dapat selalu memberikan tips menjaga kehamilan agar tetap sehat.


Langkah 3 : Menerapkan Gaya Hidup Sehat


Hentikanlah kebiasaan merokok dan minum minuman yang mengandung alkohol. Selain menyebabkan gangguan jantung pada Ibu hamil, rokok juga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin sehingga berat bayi lahir rendah (BBLR). Sementara alkohol dapat menyebabkan Fetal Alcohol Syndrome (FAS), ditandai dengan pertumbuhan janin yang tidak normal, wajah bayi yang abnormal, dan kerusakan susunan sistem saraf.

Lakukan olahraga rutin dan tidur/istirahat yang cukup. Kurang tidur dan olahraga bisa menyebabkan gangguan kesehatan akibat daya tahan tubuh Ibu selama masa kehamilan yang kurang.


Langkah 4 : Menerapkan Pola Hidup Bersih


Selama masa kehamilan daya tahan Ibu hamil mudah menurun, sehingga rawan terserang penyakit. Untuk itu, menjaga kebersihan diri sangat penting, seperti : mencuci tangan sebelum makan dan menjaga kebersihan organ intim agar terhindar dari keputihan.


Langkah 5 : Memberikan Stimulasi Pra Lahir


Stimulasi pra lahir bermanfaat untuk merangsang persalinan agar lahir tepat waktu/sesuai usia kehamilan. Stimulasi pra lahir dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau berhubungan seks agar terjadi kontraksi, bisa juga dengan proses induksi (menggunakan obat melalui infus). Tentu stimulasi pra lahir dilakukan bila sudah terdapat tanda-tanda persalinan atau sudah tiba HPL (hari perkiraan lahir), tetapi bayi tidak kunjung lahir.

Tuesday, February 9, 2016

Apa yang Dimaksud Dengan Kehamilan Resiko Tinggi ?

kehamilan resiko tinggi, latar belakang kehamilan resiko tinggi, kehamilan risiko tinggi, kehamilan beresiko tinggi, faktor resiko tinggi kehamilan, kehamilan resiko tinggi ibu hamil, kehamilan berisiko tinggi, penyakit kehamilan resiko tinggi, faktor resiko tinggi pada kehamilan, tanda tanda kehamilan resiko tinggi, pengertian kehamilan risiko tinggi, kriteria kehamilan beresiko tinggi
Baru mendengar mengenai kehamilan resiko tinggi saja sudah bikin hati menciut, apalagi jika harus menjalaninya. Namun, jangan khawatir, ada acara untuk memperkecil resikonya.

Secara sederhana, kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang dapat menyebabkan komplikasi pada Ibu, bayi, maupun keduanya. Ada sejumlah faktor resiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi kehamilan alias kehamilan beresiko tinggi, yaitu :


Faktor-Faktor Resiko


Usia Saat Hamil. Ibu yang hamil di bawah usia 17 tahun atau di atas 35 tahun lebih berpotensi mengalami komplikasi kehamilan. Resiko keguguran dan kelainan genetik akan meningkat jika Ibu hamil di atas usia 40 tahun. Sementara, organ reproduksi yang belum matang pada Ibu hamil di bawah usia 17 tahun akan meningkatkan resiko kelahiran prematur.

Penyakit Yang Menyertai Sebelum Kehamilan. Kehamilan dikategorikan kehamilan beresiko tinggi bila Ibu memiliki tekanan darah tinggi, gangguan ginjal, gangguan jantung, diabetes, penyakit autoimun seperti lupus, asma, kanker, hingga talassemia. Begitu pula jika Ibu memiliki masalah obesitas atau sebaliknya, berat badan rendah (underweight), juga mengalami masalah infeksi akut, seperti infeksi akibat penyakit menular seksual.

Riwayat Kesehatan. Ibu dengan riwayat keguguran berulang, pernah mengalami komplikasi pada kehamilan sebelumnya atau riwayat penyakit kelainan genetik dalam keluarga, berpotensi mengalami kehamilan beresiko tinggi. Ada kemungkinan kejadian tersebut berulang pada kehamilan berikutnya. Begitu pula jika Ibu pernah mengalami trauma/benturan hebat yang mempengaruhi organ reproduksi, semisal benturan pada panggul sehingga membuat panggul menjadi sempit.

Kehamilan Kembar. Kehamilan kembar meningkatkan resiko perdarahan pada saat prose persalinan terjadi. Selain itu, umumnya ukuran bayi tidak akan sama, yang satu akan lebih kecil dari yang lain dan posisinya pun melintang. Kemungkinan kelahiran dini atau prematur akan meningkat dalam kehamilan kembar. Selain karena faktor keturunan, Ibu yang hamil melalui program bayi tabung juga berpotensi mengalami kehamilan kembar.

Riwayat Kelahiran Prematur. Disebut prematur jika bayi lahir sebelum usia 37 minggu. Kelahiran prematur pada kehamilan sebelumnya bisa berulang pada kehamilan berikutnya. Oleh karena itu, Ibu hamil dengan riwayat kelahiran prematur digolongkan memiliki kehamilan beresiko tinggi. Sementara, kelahiran prematur itu sendiri bisa disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya infeksi pada Ibu hamil dan mulut rahim yang memendek sebelum waktunya (inkompetensi serviks), selain factor riwayat kelahiran prematur itu sendiri.


Komplikasi Kehamilan


Selain faktor-faktor resiko, komplikasi kehamilan juga bisa membuat kehamilan digolongkan beresiko tinggi. Pada awalnya kehamilan berjalan sehat tanpa masalah apa pun, tetapi di tengah perjalanannya, muncul komplikasi yang mengubah status kehamilan menjadi beresiko tinggi. Ini beberapa komplikasinya :

Preeklamsia. Usia muda, riwayat preeklamsia atau tekanan darah tinggi pada kehamilan sebelumnya, malnutrisi, kehamilan kembar, kehamilan mola hedatidosa, serta Ibu hamil dengan kondisi medis tertentu seperti penyakit jantung, kelainan tiroid, gangguan ginjal, diabetes, maupun penyakit lupus bisa meningkatkan resiko preeklamsia. Bila wajah dan tangan Ibu tiba-tiba sangat membengkak, bisa jadi hal tersebut merupakan gejala preeklamsia. Begitu pula jika tekanan darah Ibu tiba-tiba melonjak tinggi. Dokter ahli kandungan akan memastikan diagnosis melalui pemeriksaan tekanan darah dan urine.

Plasenta Previa. Kondisi ini terjadi ketika plasenta menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Semestinya plasenta tumbuh di bagian atas rahim, tetapi karena sejumlah faktor, plasenta tumbuh di bagian bawah rahim. Bila Ibu mengalami perdarahan melalui vagina tapi tanpa rasa nyeri, bisa jadi itu salah satu gejalanya. Plasenta previa dapat terdeteksi melalui pemeriksaan USG setelah minggu ke 12 kehamilan.

Diabetes Kehamilan (Gestational Diabetes). Sebanyak 18% Ibu hamil mengalami diabetes kehamilan. Hal ini disebabkan perubahan hormonal yang terjadi saat hamil. Jika kadar darah Ibu hamil tidak dikontrol, janin berat badan lahir bayinya nanti bisa melebihi 4 kg. Berat badan besar seperti ini meningkatkan resiko bayi tersangkut saat persalinan dan resiko bayi mengalami penyakit degeneratif di masa depan (saat dewasa), seperti : diabetes, jantung, dan obesitas. Selain itu, diabetes kehamilan juga meningkatkan resiko preeklamsia, kelahiran prematur, hingga resiko diabetes menetap dan penyakit jantung pascapersalinan pada Ibu.

Menurut penelitian yang dilakukan University California of San Fransisco, jumlah kehamilan beresiko tinggi sebetulnya hanya 6-8% dari semua kehamilan. Jika dengan membaca penjelasan tadi Ibu merasa termasuk dalam beresiko tinggi, ambilah langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kesehatan diri serta janin di kandungan.


Apa Yang Harus Dilakukan Dengan Kehamilan Resiko Tinggi?


Melakukan kontrol teratur pada dokter kandungan dan kebidanan (obstetric dan ginekologi/obgin) merupakan suatu keharusan. Misal, jika Ibu telah memiliki riwayat kelahiran prrematur, dokter akan memeriksa apakah Ibu mengalami inkompetensi serviks. Jika ya, maka dokter akan melakukan pengikatan mulut rahim untuk mencegah mulut rahim memendek dan terbuka sebelum waktunya.

Bila Ibu diketahui memiliki penyakit tertentu, seperti diabetes mellitus atau tekanan darah tinggi, dokter akan memberi cara mengontrolnya. Begitu pula jika Ibu diketahui mengidap penyakit jantung, infeksi, kelainan kromosom, atau obesitas.

Dalam menangani sebuah kehamilan beresiko tinggi, biasanya dokter kandungan akan bekerja sama dengan dokter spesialis lain, semisal spesialis penyakit jantung jika Ibu hamil mengidap gangguan jantung.

Segera setelah tahu kondisi kehamilan termasuk beresiko tinggi, berkonsultasilah pada dokter kandungan sub spesialis fetomaternal. Dokter sub spesialis ini mempunyai keahlian mendiagnosis atau mendeteksi kelainan pada janin (fetus) atau Ibu (materna). Pemeriksaan fetomaternal meliputi deteksi dini kelainan genetic dan kromosom pada janin hingga pemeriksaan kelainan darah seperti talassemia.

Selanjutnya, agar selalu dapat memantau kesehatan kehamilan, Ibu harus rutin memeriksakan diri pada dokter kandungan dan melakukan minimal empat kali pemeriksaan USG selama masa kehamilan. Segera komunikasikan pada dokter jika Ibu hamil merasakan gangguan kesehatan, sekalipun belum tiba saatnya jadwal untuk kembali kontrol rutin kehamilan.

Dokter kandungan yang baik akan menginformasikan segala gejala yang perlu diwaspadai terkait kondisi kesehatan Ibu. Misalnya, jika Ibu mengidap tekanan darah tinggi, dokter akan meminta Ibu segera ke dokter jika mengalami pusing hebat, pandangan kabur, dan muncul rasa mual, karena itu semua merupakan sebagian gejala preeklamsia. Dengan kontrol yang teratur, diharapkan resiko yang ada tentunya bisa ditekan.

Monday, February 1, 2016

Mungkinkah Ibu Yang Hamil Tapi Calon Ayah Ikut Ngidam ?

ayah ikut ngidam,ayah ngidam,calon ayah ngidam,ibu hamil ayah ngidam,ngidam pada ayah
Ayah ikut ngidam. Mungkinkah? Mual muntah, sulit tidur, nafsu makan berkurang, cepat lelah dan mengantuk, emosi yang naik turun hingga mengidam makanan tertentu adalah cerita yang biasa kita dengar saat Ibu menjalani kehamilan di trimester pertama. Namun, adakalanya Ayah pun mengalami gejala-gejala kehamilan ini. Ada yang hanya merasa jadi sering mengantuk seperti istrinya yang hamil, ada pula yang sampai mengalami muntah-muntah hebat. Ternyata, banyak juga Ayah yang mengalaminya. Kok, bisa ya?

Fenomena ini bernama sindrom couvade. Couvade berasal dari Bahasa Perancis “couver” yang artinya mengerami atau menetaskan. Istilah ini digunakan pertama kali oleh seorang antropolog, Edward Burnett Tylor, pada 1865. Ia menggunakan istilah itu untuk mendeskripsikan harapan atau kecemasan mengenai kelahiran bayi pada komunitas primitif.

Kendati namanya terdengar asing di telinga, cukup banyak Ayah yang mengalami fenomena ini. Peneliti Dr. Arthur Brennan dari Kingston University di London pada 2007 mempelajari 282 laki-laki yang akan mempersiapkan diri menjadi Ayah. Hasil yang didapatkan, sekitar 55% laki-laki ini turut mengalami gejala yang biasanya dialami oleh sang istri saat hamil. Sejumlah penelitian lain mencatat sebanyak 25-52% calon Ayah di Amerika ikut merasakannya. Bahkan di Thailand, angka Ayah yang mengalaminya diperkirakan mencapai 61%.

Dari berbagai kasus sindrom couvade atau Ayah ngidam yang terjadi, gejalanya meliputi fisiologis dan psikologis. Gejala fisiologis, misalnya mual, rasa nyeri di perut, kembung, perubahan nafsu makan, gangguan pernapasan, sakit gigi, kaki kram, sakit punggung hingga iritasi organ genital atau saluran kencing. Sedangkan gejala psikologis, contohnya perubahan pola tidur, kecemasan, depresi, gelisah, dan berkurangnya libido.


Simpati Kelewat Besar


Ternyata, sindrom couvade lebih disebabkan oleh factor psikologis. Ayah seolah-olah mengalami gejala kehamilan karena rasa simpati yang kelewat besar pada kondisi Ibu. Itu sebabnya, sindrom couvade juga sering disebut sebagai kehamilan simpatik (symphatetic pregnancy). Perasaan simpati ditandai dengan kemampuan merasakan apa yang dialami, dilakukan, dan diderita oleh orang lain.

Seorang Ayah yang akan menyambut kedatangan sang buah hati, umumnya dilanda perasaan gembira dan bersemangat. Namun, bersamaan dengan itu, ada juga rasa cemas, khawatir dan tegang menghadapi persalinan, serta tanggung jawab sebagai seorang Ayah. Ketika berbagai emosi ini menguasai pikiran seorang Ayah, efeknya antara lain bisa memunculkan keluhan yang bersifat fisiologis. Misalnya, keluhan mag sering kali jika diperiksa lebih seksama, penyebabnya asalah perasaan cemas dan tegang berlebihan. Inilah yang membuat sindrom couvade juga dapat disertai gejala fisiologis.

Sindrom couvade biasanya muncul pada trimester pertama dan ketiga kehamilan. Pasalnya, pada periode ini umumnya Ibu lebih banyak mengalami keluhan. Dengan sendirinya, Ibu pun lebih banyak menceritakan keluhan ini kepada Ayah. Adanya “serbuan” keluhan ini dapat menstimulasi Ayah, sehingga bersimpati dengan kadar yang tinggi dan mengakibatkan Ayah seolah-olah ikut mengalami keluhan tersebut. Sindrom couvade biasanya menurun pada trimester kedua, karena kehamilan Ibu lebih berjalan “damai” pada periode ini.

Meski sindrom couvade umumnya menghilang setelah kelahiran sang buah hati, bisa saja Ayah kembali mengalaminya saat menunggu kelahiran anak kedua, ketiga, dan seterusnya. Sebaliknya, mungkin juga Ayah tidak mengalaminya saat menunggu kelahiran anak pertama, tapi mengalaminya ketika Ibu hamil anak kedua. Makin dalam Ayah terlibat dengan kehamilan Ibu, makin besar peluang Ayah mengalami sindrom ini. Misalnya, Ayah yang mengalami tingkat kekhawatiran tinggi karena kehamilan Ibu berisiko tinggi akan lebih mungkin ikut mengalami gejala-gejala kehamilan dibandingkan Ayah yang tingkat kecemasannya rendah.


Atasi Dengan Logika


Bila sindrom ini tidak terlalu mengganggu rutinitas Ayah, nikmati saja sebagai bagian dari menunggu proses kelahiran sang buah hati. Lain hal bila sudah berlebihan dan dirasakan mengganggu, tentu saja Ayah harus mencari jalan untuk dapat mengatasinya.

Saat muncul rasa simpati, yang dominan berperan adalah aspek perasaan atau emosional dari seorang Ayah. Emosi dikontrol oleh system limbik pada otak manusia. Ketika system limbik bekerja dengan sangat aktif, korteks prefrontal yang mengatur logika di bagian otak depan akan menjadi lemah. Karena itu, ketika sindrom couvade menyerang, Ayah harus dapat berpikir dengan logis dan menyadari semua tindakan Ayah. Aktifkan kembali korteks prefrontal supaya dapat meredam emosi yang berlebihan tadi.

Misalnya, di waktu tengah malam Ayah merasa sangat ingin mengudap makanan tertentu seperti layaknya seorang Ibu yang sedang mengidam. Padahal, sudah tidak mungkin ada penjual makanan tersebut di tengah malam seperti itu. Untuk meredakan keinginan “mengidam” tersebut, Ayah harus kembali berpikir dengan logis bahwa yang sedang hamil dan mengalami gejala-gejala kehamilan adalah Ibu, bukan Ayah. Tekankan pikiran bahwa tengah malam begitu kehadiran Ayah lebih dibutuhkan di sisi Ibu untuk menemani dan melindungi Ibu di rumah, bukan malah berkeliaran di luar rumah menuruti keinginan mencari makanan.

Ibu pun dapat mengingatkan Ayah jika melihat sindrom couvade atau ngidam pada Ayah yang dialami mulai terasa mengganggu. Namun, Ibu juga jangan sampai marah-marah dan emosi yang berlebihan. Kondisi demikian hanya akan menambah runyam keadaan rumah tangga.

Bila Ibu merasa tidak mampu mengingatkan Ayah mengenai sindrom couvade yang dialaminya, coba minta bantuan teman-teman Ayah sesama Ayah untuk berbicara dari hati ke hati. Menurut sebuah penelitian, seorang Ayah lebih mudah dipengaruhi oleh sesama Ayah dibandingkan oleh istri, orangtua, ataupun tenaga kesehatan. Teman-teman Ayah yang saling berbagi cerita dan mengingatkan Ayah dapat membantunya untuk dapat lepas dari sindrom couvade yang menyerangnya ini.