Tuesday, September 29, 2015

Rambut Rontok Saat Hamil

rambut rontok saat hamil
Rambut rontok saat hamil merupakan masalah yang sering terjadi selama masa hamil. Selama kehamilan di trimester pertama, setiap hari helai rambut yang rontok semakin banyak. Saat keramas, ketika disisir dan diikat, bahkan sewaktu diusap perlahan. Benarkah rambut Ibu sedang menipis?

Sepanjang masa kehamilan, kondisi hormon di tubuh Ibu mengalami perubahan cukup drastis. Perubahan ini turut mempengaruhi siklus pertumbuhan rambut Ibu hamil. Normalnya, sebanyak 85% rambut akan berada pada fase pertumbuhan , sedangkan 15% lainnya berada pada fase istirahat. Setiap 2-3 bulan sekali, rambut yang beristirahat akan rontok dan digantikan oleh pertumbuhan rambut baru.

Akibat fluktuasi hormon di tubuh Ibu hamil, siklus tersebut berlangsung tidak sebagaimana mestinya. Sewaktu hamil, kadar hormon estrogen di tubuh Ibu meningkat jauh. Salah satu akibatnya adalah membuat rambut terus berada pada fase pertumbuhan. Karena terus bertumbuh dan tidak mengalami kerontokan, rambut Ibu hamil terlihat lebih tebal dan berkilau dibandingkan sebelumnya.

Meski begitu, tidak semua Ibu hamil merasakan volume rambutnya menebal. Sebagian justru mengalami rambut rontok saat hamil, bahkan sejak awal kehamilan. Rambut rontok pada ibu hamil dalam jumlah abnormal disebut telogen effluvium. Kerontokan ini terjadi pada 40-50% Ibu hamil dan dapat terjadi di bulan pertama hingga kelima kehamilan namun hanya berlangsung sementara.

Selain itu, rambut rontok pada ibu hamil juga sering terjadi sekitar tiga bulan setelah persalinan. Pasalnya, di saat ini, kadar hormon di tubuh Ibu kembali mengalami perubahan hebat.


Rambut Rontok Saat Hamil Tidak Bisa Dihentikan Tapi Dapat Dikurangi


Meski membuat banyak Ibu tidak nyaman dan berpotensi mengurangi rasa percaya diri, rambut rontok saat hamil ini sayangnya tidak dapat dihentikan. Pasalnya, penyebab utama rambut rontok saat hamil adalah faktor hormonal, sehingga tidak ada langkah khusus yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

Meski tak dapat dihentikan, kerontokan rambut, baik saat hamil maupun pasca persalinan, dapat dikurangi. Caranya dengan tetap memelihara kesehatan rambut selama hamil dan pasca persalinan. Nanti, masalah rambut rontok saat hamil ini akan berhenti sendiri ketika kondisi hormon tubuh Ibu sudah kembali normal. Pada saat itu, rambut kan tumbuh dalam siklus seperti sedia kala.


Perawatan Rambut Untuk Ibu Hamil di Salon


Perawatan rambut untuk ibu hamil sering menjadi masalah yang memusingkan selama kehamilan. Ada sebagian Ibu yang selama hamil memilih untuk tidak melakukan perawatan rambut di salon, seperti : creambath, hair spa, dicat, atau diluruskan/dikeriting. Alasannya, takut bahan kimia yang digunakan untuk rambut akan mempengaruhi kesehatan janin. Pada kenyataannya, kekhawatiran ini kurang mendapat dukungan bukti ilmiah. Meski begitu, bukan berarti Ibu hamil bisa bebas melakukan perawatan rambut di salon sesering mungkin.

Creambath/Hair Spa/Hair Mask. Ketiga teknik ini bertujuan menjaga kesehatan dan keindahan rambut dengan cara mengaplikasikan krim khusus bernutrisi ke dalam pori-pori kulit kepala. Bedanya, hair spa dan hair mask penting dilakukan oleh Ibu hamil yang rambutnya sering terpapar zat kimia, misalnya akibat pelurusan ataupun pengeritingan rambut, sehingga kondisi rambutnya lebih rapuh. Berikut tips perawatan rambut untuk Ibu hamil :
  • Pilih krim dengan bahan alami seperti avokad, seledri atau cokelat.
  • Pilih krim yang mengandung kandungan nutrisi penting bagi rambut, seperti asam amino, biotin dan kalsium.
  • Selain memijat kepala, minta kapster untuk memijat bagian tubuh lain yang sering terasa pegal, seperti pundak dan punggung.


Mewarnai Rambut. Menurut data dari Organization of Teratology Information Services (OTIS, lembaga penyedia informasi tentang berbagai risiko yang berkaitan dengan reproduksi), tidak ada laporan atau penelitian yang membuktikan bahwa pewarnaan rambut semasa hamil akan menimbulkan komplikasi pada kandungan, seperti keguguran atau cacat lahir. Bahkan, OTIS menjelaskan, zat kimia dari pewarna rambut yang diserap kulit dan masuk ke dalam sistem tubuh kita jumlahnya sangat sedikit.
  • Demi ketenangan hati Ibu hamil, para ahli menganjurkan pewarnaan rambut dilakukan setelah usia kehamilan memasuki trimester kedua, karena di tahap ini semua organ penting bayi telah terbentuk. Ibu hamil juga disarankan melakukan pewarnaan rambut hanya sekali selama masa kehamilan.
  • Bila ingin mewarnai rambut secara permanen, pilih teknik highlight daripada full-head. Highlight rambut adalah proses mewarnai rambut dengan tetap mempertahankan warna aslinya. Berbeda dari full-head yang diaplikasikan ke seluruh area kepala, highlight dilakukan pada sebagian helai rambut tanpa menyentuh kulit kepala. Kemungkinan produk untuk diserap kulit pun sangat minim.
  • Bila ingin mewarnai rambut  secara semi permanen, pilih teknik toning atau gunakan henna alami (pure henna). Toning adalah proses pewarnaan rambut yang dilakukan dengan cara melapisi batang rambut tanpa menyentuh kulit kepala. Sementara henna alami adalah pewarna rambut dari tanaman Lawsonia Inermis yang tidak mengandung zat kimia keras. Pewarna rambut semi permanen umumnya tidak mengandung bahan kimia keras, seperti amonia atau peroksida. Selain itu, pewarna semi-permanen biasanya akan memudar dalam waktu sebulan.
  • Ketika hendak mewarnai rambut di salon, tanyakan produk pewarna apa yang hendak dipakai. Sebaiknya, baca terlebih dahulu bahan atau instruksi yang tertera di kemasannya agar Ibu hamil lebih tenang.
  • Jika mewarnai rambut sendiri di rumah, pastikan untuk : menggunakan produk yang sudah terdaftar di BPOM RI, berada di ruangan berventilasi baik, mengikuti instruksi di kemasan produk pewarna dengan benar, melakukan tes alergi pada kulit sebelum memulai proses mewarnai, dan menggunakan sarung tangan selama mengaplikasikan produk.
  • Hindari melakukan teknik bleaching karena dapat mengubah pigmen asli rambut dam membuat rambut menjadi rapuh.


Meluruskan/Mengeriting Rambut


Sama seperti mewarnai rambut, meluruskan  atau mengeriting rambut di saat hamil pun ternyata aman bagi kesehatan Ibu hamil maupun kandungan. Hal ini antara lain ditegaskan oleh Catherine Lynch, M.D., dosen bidang obstetri dan ginekologi serta Dekan di University of South Florida. Lynch mengatakan, zat kimia yang akan disrap tubuh, jumlahnya sangat sedikit dan tidak mempengaruhi perkembangan janin. Ia hanya mengingatkan, hasil pelurusan atau pengeritingan rambut pada Ibu hamil bisa berbeda jauh dari yang diharapkan. Pasalnya, fluktuasi hormon pada Ibu hamil turut mengubah komposisi dan tekstur rambut. Akibatnya, rambut dapat bereaksi berbeda terhadap paparan produk pelurus ataupun pengeriting rambut.


Ibu Hamil Disarankan Tidak Melakukan Hair Relaxing


Belakangan ini muncul teknik pelurusan rambut baru yang disebut hair relaxing. Teknik ini menggunakan produk pelurusan berbahan dasar keratin, yang juga merupakan protein pembentuk komponen utama rambut. Produk hair relaxing umumnya mengandung zat kimia jenis lye (larutan alkali) dan non lye. Lye mengandung natrium hidroksida dan guanidin karbonat. Hingga kini belum ada penelitian yang mengungkapkan efek dari perawatan ini terhadap kesehatan Ibu hamil ataupun janin. Berdasarkan hal itu, para ahli menyarankan Ibu hamil untuk tidak melakukan perawatan hair relaxing selama periode kehamilan.



Tuesday, September 22, 2015

Proses Episiotomi Selama Persalinan

Proses Episiotomi Selama Persalinan
Berbicara mengenai Episiotomi sering membuat banyak Ibu hamil merasa takut duluan. Pengertian Episiotomi adalah tindakan pengguntingan kulit serta otot dengan gunting episiotomi, antara vagina dan anus pada persalinan normal dengan tujuan melebarkan jalan lahir. Namun sebenarnya, tindakan ini memiliki banyak manfaat yang akan membuat persalinan Ibu lebih lancar.

Saat pembukaan telah lengkap, kepala bayi mulai tampak, dan Ibu diharuskan mengejan, saat itulah bayi melakukan gerakan memutar atau rotasi untuk bisa keluar. Gerakan tersebut ternyata berpotensi merobek kulit dan otot di sekitar jalan lahir yang pada saat itu meregang. Bila tidak ditangani dengan tepat, robekan bisa menjadi lebih luas dan masa pemulihan tentu jadi lebih lama.

Tindakan episiotomi dilakukan bila otot sekitar jalan lahir terlihat sangat regang. Seorang dokter profesional akan mengguntingnya untuk membuat robekan lebih “bagus”. Bila Ibu bertanya, apakah tindakan episiotomi sakit? Rasa sakit dari tindakan atau cara episiotomi akan tertutupi oleh rasa mulas saat bayi akan keluar dan pada saat mengejan. Sehingga sebenarnya, Ibu tidak akan terlalu merasakan saat tindakan ini dilakukan.

Walau begitu, tidak semua persalinan normal membutuhkan tindakan episiotomi. Misalnya, saat bayi Ibu berukuran kecil dan peregangan otot pada jalan lahir terlihat cukup elastis serta mampu meregang dengan luas, episiotomi bisa saja tidak dilakukan. Begitu juga untuk kelahiran kedua dan seterusnya, bukan tidak mungkin kulit dan otot di jalan lahir akan lebih mudah meregang sehingga tidak perlu dilakukan episiotomi.



Manfaat Tindakan Episiotomi



Berikut ini adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari suatu tindakan medis Episiotomi :
  • Mengurangi risiko robekan yang lebih luas.
  • Luka Episiotomi yang sedikit akan membuat proses penyembuhan menjadi lebih cepat.
  • Memperluas jalan lahir agar bayi dapat lebih mudah keluar panggung, terlebih bila bayi berukuran lebih besar.
  • Mengurangi risiko Ibu kekurangan darah yang disebabkan oleh luka. Semakin besar luka, darah yang dikeluarkan tentu semakin banyak.



Tindakan Episiotomi Tidak Terasa Sakit



Bisa dibilang, tindakan episiotomi merupakan tindakan spontan yang dilakukan oleh dokter. Tindakan tersebut baru akan atau tidak dilakukan setelah dokter menganalisa kondisi otot di sekitar jalan lahir pada saat persalinan.

Dengan demikian, tidak ada tindakan khusus yang bisa dilakukan untuk mencegah dilakukannya tindakan episiotomi. Semua bergantung pada kondisi kulit maupun otot-otot di jalan lahir saat proses persalinan berlangsung. Latihan senam hamil, senam kegel, dan gerakan lainnya lebih berfungsi untuk meng-elastis-kan otot panggul agar kepala bayi lebih mudah masuk ke jalan lahir sehingga proses persalinan menjadi lebih lancar.

Daripada terlalu memikirkan tindakan episiotomi, lebih baik Ibu hamil memperhatikan proses pemulihan luka bekas guntingan. Beberapa Ibu hamil mengaku tidak merasakan sakit saat proses penjahitan luka dilakukan, namun sebagian lagi berkata sebaliknya. Tetapi tenang saja, sebab biasanya sebelum tindakan penjahitan tersebut dilakukan, dokter akan melakukan anestasi atau bius lokal terlebih dahulu.

Hal lain yang terbilang ampuh untuk mengalihkan perhatian Ibu dari rasa nyeri ialah IMD (Inisiasi Menyusu Dini). Kebahagiaan bisa  memeluk langsung sang buah hati yang telah dikandung selama 9 bulan bisa menjadi obat anestesi yang paling ampuh. Ibu bisa membicarakan keinginan IMD kepada dokter sebelum proses persalinan dimulai, agar para tenaga medis bisa mempersiapkannya dengan lebih matang.


Tuesday, September 15, 2015

Olahraga Yang Aman Untuk Ibu Hamil Trimester 2

olahraga untuk ibu hamil
Olahraga untuk Ibu hamil sangat diperlukan agar tercapai kondisi tubuh yang sehat dan bugar dalam rangka untuk menjalani proses persalinan yang lancar. Dalam berolahraga, Ibu perlu memperhatikan program latihan yang mencakup jenis, frekuensi, durasi dan intensitasnya.

Sebelum kita berolahraga, pertama-tama cari tahu tujuannya dahulu. Tujuan berolahraga dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu untuk mengejar prestasi, mendapatkan unsur kesenangan, dan mencapai kesehatan serta kebugaran.

Untuk Ibu hamil tujuannya tentulah untuk mencapai kesehatan serta kebugaran. Bila demikian, maka parameter kesehatan dan kebugaran harus muncul. Maksudnya, dengan berolahraga, maka derajat kebugaran harus bertambah.

Jadi, kalau Ibu cepat merasa sesak napas saat berjalan, maka dengan berolahraga, gangguan tersebut seharusnya dapat mereda. Bila Ibu punya keluhan tekanan darah tinggi, olahraga juga dapat menjadi sarana untuk membantu menurunkannya. Kondisi sehat dan bugar diperlukan Ibu hamil untuk menjalani proses persalinan yang lancar.

Namun, sebelum berolahraga, Ibu perlu berkonsultasi dengan dokter. Dari pemeriksaan dapat diketahui batasan-batasan berolahraga terkait kondisi kesehatan Ibu serta olahraga apa yang cocok atau tidak boleh dilakukan.


Olahraga Untuk Ibu Hamil Maksimal 6 Kali Seminggu


Dalam berolahraga, kita perlu memperhatikan program latihan yang mencakup jenis, frekuensi, durasi, dan intensitasnya.

Untuk jenis latihan, dalam program harus ada latihan olahraga aerobik, yaitu jenis latihan yang membuat jantung dan paru-paru bekerja lebih keras untuk memasok otot dengan oksigen. Olahraga untuk Ibu hamil yang termasuk dalam jenis latihan ini diantaranya berjalan, berlari, dan berenang.

Frekuensi olahraga yang disarankan bagi Ibu hamil di trimester ke 2 adalah 2-3 kali seminggu. Setelah mulai terbiasa berolahraga saat hamil dan menunjukkan perbaikan kebugaran, frekuensi latihan dapat ditingkatkan menjadi 4-5 kali seminggu, maksimal 6 kali seminggu karena tubuh membutuhkan setidaknya satu hari untuk memulihkan kondisi. Setiap melakukan latihan, durasi yang disarankan adalah 30 menit.

Sedangkan intensitas latihan olahraga untuk Ibu hamil dapat ditentukan dengan menambah jarak atau kecepatan latihan. Jika Ibu biasa berjalan kaki 15 menit, misal, maka peningkatan intensitas latihan bisa dilakukan dengan menambah waktu menjadi 30 menit.


Hitung Denyut Jantung


Mengukur denyut jantung merupakan cara paling akurat untuk menentukan intensitas latihan olahraga saat hamil. Kita dapat memakai rumus denyut jantung maksimal, yaitu : 220 dikurangi usia. Untuk Ibu hamil, intensitas latihan disarankan berkisar antara 50-70% dari denyut jantung maksimal. Contoh, usia Ibu 30 tahun, maka denyut jantung maksimalnya adalah 220 dikurangi 30 = 190 denyut per menit. Setelah berolahraga, denyut jantung tidak boleh melebihi 50-70%-nya atau sekitar 95-133 denyut per menit.

Denyut jantung yang terlalu cepat menandakan kita berolahraga terlalu berat. Jika denyut jantung Ibu terlalu cepat, denyut jantung janin pun akan meningkat dan ikut menaikkan suhu tubuhnya. Hal ini dapat membahayakan Ibu dan janin. Sebaliknya, jika denyut jantung terlalu rendah, tujuan olahraga untuk ibu hamil demi kesehatan dan kebugaran yang lebih baik juga tidak tercapai.

Nah, bagaimana cara mengukur denyut jantung? Cukup tempelkan jari telunjuk dan jari tengah kita pada pergelangan tangan bagian dalam atau di rahang bawah dekat leher, kemudian hitung denyutannya selama satu menit atau selama 30 detik dikalikan dua.


Hentikan Olahraga Jika ...


Jika Ibu merasakan keluhan nyeri, sesak napas, sakit kepala, bahkan terasa mau pingsan saat berolahraga, Ibu harus segera menghentikan latihan dan mencari pertolongan dokter. Begitu pula jika setelah berolahraga timbul flek darah atau keluar cairan yang bukan air seni dari vagina. Perhatikan pula pergerakan janin. Jika janin menjadi malas bergerak setelah Ibu berolahraga, segera hubungi dokter Anda.


Wednesday, September 2, 2015

Hamil Di Luar Kandungan (Kehamilan Ektopik)

Hamil Di Luar Kandungan (Kehamilan Ektopik)
Hamil diluar kandungan adalah sesuatu yang sangat ditakuti oleh para wanita. Ketika Ibu mengalami tanda-tanda kehamilan, seperti terlambat haid, mual muntah dan hasil testpack pun positif, tetapi alih-alih mendeteksi keberadaan janin dalam rahim, dokter justru menemukan denyut kehidupan di luar rahim.

Betul sekali, kehamilan memang bisa terjadi di luar kandungan, istilah medisnya kehamilan ektopik. Pada kehamilan yang normal, pertemuan antara sel telur dan sperma terjadi di saluran telur. Setelah pembuahan terjadi, seharusnya hasil pembuahan ini berjalan menuju rongga rahim.

Tapi pada kasus hamil di luar kandungan, hasil pembuahan tidak bisa mencapai rahim atau macet dan menetap di saluran telur atau tempat lainnya dalam perut Ibu, misalnya di leher rahim, dalam rongga perut atau di indung telur.

Otomatis, janin memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk bertahan hidup. Biasanya kehamilan di luar kandungan hanya dapat bertahan 5-10 minggu. Kehamilan seperti ini tidak bisa diselamatkan sehingga sering terjadi keguguran. Namun, pada sejumlah kondisi kecil, contoh pada kehamilan abdominal, ada juga janin yang bisa bertahan hingga masa persalinan dan persalinannya dilakukan dengan cara sesar.

Pastinya, Ibu yang mengalami kehamilan ektopik butuh pertolongan medis secepatnya. Jika dibiarkan, kondisi ini sangat berbahaya dan dapat mengancam nyawa Ibu karena kehamilan ektopik bisa menyebabkan perdarahan dalam rongga perut. Perdarahan dalam ini lebih berbahaya dibanding perdarahan luar.

Hamil ektopik menimpa sekitar 1% dari seluruh kehamilan. Sekitar 12% perempuan akan kembali mengalami kehamilan ektopik, ketika sebelumnya pernah mengalaminya. Kabar baiknya, perempuan akan subur kembali setelah mengalami kehamilan ektopik. Hanya saja, biasanya perempuan yang mengalami kehamilan ektopik akan dilanda trauma berat. Akibatnya, 30% tidak ingin mengalami kehamilan kembali, dan sekitar 10% akan memiliki masalah kesuburan.



Infeksi Tuba Fallopi


Kehamilan ektopik bisa disebabkan berbagai faktor. Namun, yang paling sering adalah : infeksi pada tuba fallopi (saluran yang menghubungkan indung telur dan rahim) dan adanya kerusakan di saluran telur yang membuat embrio tidak bisa menuju ke rahim. Pada beberapa kasus, ada kemungkinan penyebabnya ialah kesalahan salah satu jenis hormon pengaturan yang berperan dalam hal ini, sehingga perjalanan hasil pembuahan tidak lancar alias mengalami hambatan.

Semua perempuan beresiko mengalami hamil diluar kandungan. Hanya saja, risiko hamil diluar kandungan meningkat pada Ibu yang memiliki riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, pernah mengalami operasi pembedahan pada daerah sekitar tuba fallopi, ada kelainan kongenital pada tuba fallopi, memiliki riwayat PMS (penyakit menular seksual), dan risiko meningkat pada yang pernah aborsi berulang.

Saat usia kehamilan mencapai 6-10 minggu, Ibu dengan kehamilan ektopik akan mengalami sakit mendadak pada salah satu panggul, perdarahan vagina di luar jadwal menstruasi, nyeri yang sangat di daerah perut bagian bawah, hingga bisa sampai pingsan, terlihat pucat, tekanan darah rendah namun denyut nadi meningkat.



Deteksi Dini


Sayangnya, tidak ada tanda-tanda khusus seorang Ibu mengalami kehamilan diluar kandungan. Di awal-awal kehamilan, tanda-tanda yang diperlihatkan sama dengan kehamilan normal pada umumnya, seperti : terlambat menstruasi, morning sickness, dan pada tes kehamilan juga menunjukkan tanda positif. Karena tanda-tanda yang begitu mirip inilah, banyak Ibu hamil yang tidak menyadarinya.

Karena tanda-tanda kehamilan ektopik sama dengan kehamilan normal, maka kehamilan ektopik sulit dideteksi dengan hanya pemeriksaan luar. Untuk itu diperlukan pemeriksaan melalui USG (ultrasonografi), dari sini dapat terlihat apakah ada yang berbeda di saluran telur, apakah ada pendarahan dan janin ada di luar rahim.

Selain itu, deteksi kehamilan ektopik juga bisa dilakukan dengan pengukuran kadar hormon kehamilan hCG (Human Chorionic Gonadotropin). Ibu yang mengalami kehamilan ektopik, kadar hCG-nya tidak mengalami peningkatan. Cara lainnya dengan laparoskopi atau pembedahan dengan sayatan kecil di bagian bawah perut untuk pemeriksaan bagian dalam.



Embrio Diangkat


Karena hamil diluar kandungan sangat berisiko terhadap keselamatan Ibu, umumnya dokter akan mengambil keputusan untuk membatalkannya melalui operasi guna mengangkat embrio, sebagian atau keseluruhan saluran telur yang pecah, dan dibersihkan hingga tak ada jaringan yang tertinggal.

Jika hanya salah satu saluran telur yang diangkat, Ibu masih memiliki kemungkinan untuk hamil kembali dan melahirkan normal. Sangat penting untuk mengkonsultasikannya kepada dokter atau bidan apabila Ibu memutuskan untuk hamil kembali. Lakukan konsultasi sebelum dan selama kehamilan guna menghindari kejadian yang sama terulang dan menjaga kehamilan tetap berlangsung dengan baik hingga masa persalinan nanti.

Tapi jika kehamilan ektopik ini telah membuat kedua saluran telur diangkat, tentu Ibu tak bisa hamil kembali atau menjadi infertil. Pada kondisi ini, Ibu sangat membutuhkan dukungan Suami dan keluarga, ataupun teman dekat agar dapat pulih dan bisa melewati kesedihan karena kehilangan janin atau saluran telurnya. Di masa-masa yang sangat berat ini, sebaiknya Ibu tidak memendam kesedihan sendiri. Kehadiran Suami, terutama, sangat dibutuhkan untuk menguatkan mental Ibu.