Monday, December 7, 2015

Hamil Anggur Itu Apa

hamil anggur,hamil anggur adalah,hamil anggur dan hamil diluar kandungan,hamil anggur itu apa,tanda2 hamil anggur
Usia kehamilan Ibu baru 1 bulan, tetapi perut sudah tampak membuncit? Bisa jadi, itu pertanda hamil anggur. Ibu harus segera memeriksakan diri ke dokter.

Trimester pertama kehamilan adalah masa paling penting bagi pertumbuhan janin. Di fase inilah embrio terbentuk hingga berubah menjadi janin. Namun, pada sebagian Ibu hamil, sel telur yang sudah dibuahi tidak berkembang secara normal. Kondisi ini memicu terjadinya kehamilan abnormal yang disebut hamil anggur atau istilah medisnya mola hydatidosa.

Setelah masa pembuahan, sel telur yang sudah dibuahi seharusnya membelah diri menjadi ratusan sel dengan fungsi berbeda-beda. Sel telur yang berada di dalam rahim akan berkembang menjadi janin, sedangkan sel telur yang berada di luar akan berubah menjadi plasenta. Nah, pada kasus hamil anggur, sel telur di dalam rahim berhenti berkembang dan menjadi massa jaringan atau tumor jinak.

Berdasarkan penyebabnya, hamil anggur dibagi menjadi dua kelompok, yakni hamil anggur lengkap dan hamil anggur parsial.

Pada hamil anggur lengkap, sel telur tidak berkembang sama sekali. Sementara sel yang sedianya akan menjadi plasenta terus berkembang menjadi trofoblas (sel-sel muda) yang kemudian membentuk gelembung-gelembung mirip anggur berisi cairan. Sel-sel ini terus tumbuh meski disertai kelainan tidak memiliki pembuluh darah.

Sedangkan hamil anggur parsial terjadi saat satu sel telur normal dibuahi oleh dua sperma. Sel yang telah dibuahi itu akan menjadi embrio namun disertai dengan kecacatan. Jaringan plasenta abnormal akan terus tumbuh, juga dengan kelainan, namun pada akhirnya akan berhenti berkembang dengan sendirinya.


Gejala Hamil Anggur


Ibu yang mengalami hamil anggur akan merasakan gejala-gejala kehamilan yang sama dengan yang dirasakan Ibu hamil di trimester pertama, seperti morning sickness. Namun, kondisi ini biasanya akan diikuti dengan gejala lain yang lebih spesifik :
  • Flek atau perdarahan dari vagina, bisa terjadi saat kehamilan berusia 6 hingga 12 minggu.
  • Keluar jaringan atau cairan berbentuk gelembung mirip buah anggur atau mata ikan dari vagina.
  • Ukuran rahim tidak normal. Di saat usia kandungan Ibu hamil masih 1 bulan, namun perut sudah tampak membuncit selayaknya sedang hamil 3 bulan.
  • Nyeri pada tulang panggul.
  • Kadar hCG (Human Chorionic Gonadotropin) Ibu hamil melebihi normal. Yang dimaksud hCG adalah hormon yang berfungsi menjaga atau mempertahankan kesehatan kandungan di trimester pertama. Mual dan muntah hebat, antara lain disebabkan oleh tingginya kadar hCG.
  • Anemia, akibat Ibu hamil mengalami perdarahan cukup banyak.
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi).

Jika Ibu hamil merasakan beberapa gejala di atas, patut mencurigai ada kondisi hamil anggur. Namun, satu-satunya cara untuk memastikan adalah dengan memeriksakan diri ke dokter, lalu melakukan USG dan tes darah untuk mengukur kadar hCG di tubuh Ibu hamil. Dari pemeriksaan USG akan terlihat rahim kosong (tidak berisi janin) dan terdapat gambaran menyerupai sarang tawon atau gelembung. Selain itu, dokter juga tidak dapat mendengar adanya denyut jantung janin. Hamil anggur biasanya terdeteksi melalui USG saat kehamilan berusia 10-14 minggu.


Menghindari Komplikasi


Jika memang positif hamil anggur, dokter akan segera melakukan tindakan kuretase untuk mengangkat jaringan abnormal dan membersihkan rahim. Kuretase dapat dilakukan sekali atau berkali-kali, bergantung pada kondisi hamil anggur yang dialami. Pada Ibu yang telah memiliki cukup anak dan tidak berencana untuk memiliki momongan lagi, tindakan pengangkatan rahim atau histerektomi bisa menjadi alternatif.

Penanganan dengan cara membersihkan rahim perlu dilakukan secepatnya untuk mencegah timbulnya komplikasi. Hanya saja, sel-sel abnormal tidak selalu hilang seluruhnya meski dokter sudah melakukan kuretase. Dampak jangka panjangnya, sel-sel tersebut menyimpan resiko untuk berkembang menjadi tumor ganas atau disebut koriokarsinoma. Ibu yang pernah mengalami hamil anggur mempunyai risiko sebesar 15-20% untuk menderita koriokarsinoma. Jangan khawatir, jika terdeteksi sejak dini, penyakit ini dapat disembuhkan total.

Pasca-kuretase, kondisi kesehatan Ibu akan terus dipantau oleh dokter, antara lain untuk mengamati kondisi sel-sel trofoblas agar tidak berkembang menjadi tumor ganas. Caranya dengan melakukan tes darah untuk mengukur kadar hCG di tubuh Ibu. Pemeriksaan ini dilakukan secara berkala setiap beberapa minggu sekali selama sekitar enam bulan ke depan. Jika pasca-kuretase, kadar hCG Ibu masih tinggi, kemungkinan dokter akan memberikan obat khusus untuk membantu menurunkannya.


Pentingnya Konsumsi Vitamin A


Berdasarkan beberapa penelitian diketahui, perempuan ras asia berisiko lebih tinggi untuk mengalami hamil anggur, bila dibandingkan dengan perempuan non asia. Khusus di Indonesia, saat ini kasus hamil anggur lebih banyak ditemukan di daerah atau kota-kota kecil dimana masyarakatnya masih kekurangan gizi. Para ahli belum dapat menyimpulkan pemicu utama terjadinya hamil anggur, namun kurangnya asupan gizi pada Ibu hamil diduga menjadi salah satu faktor penyebab.

Banyak penelitian menyebutkan, kurangnya asupan vitamin A, termasuk sejak sebelum hamil, turut memperbesar risiko seorang Ibu hamil mengalami hamil anggur. Penelitian yang dilakukan dalam waktu 1990-2006 memperlihatkan risiko seorang Ibu hamil untuk mengalami hamil anggur sebanyak 6,8 kali lebih besar jika kadar vitamin A di dalam darahnya ternyata di bawah normal.

Vitamin A adalah vitamin yang larut dalam lemak dan disimpan di lever (hati). Vitamin ini penting untuk mendorong proses perkembangan embrio dan untuk melawan infeksi. Kebutuhan vitamin A setiap Ibu hamil sebesar 770 mikrogram (2.565 IU) per hari dan akan meningkat saat fase menyusui. Walaupun sangat dibutuhkan oleh tubuh dan penting bagi pertumbuhan janin, konsumsi vitamin A juga tidak boleh berlebihan karena dapat menyebabkan cacat pada bayi.

Ibu hamil dapat mencukupi kebutuhan vitamin A dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung beta-karoten, seperti: produk susu, daging sapi, telur, sayur, dan buah-buahan. Di dalam tubuh, beta karoten nantinya akan dirubah menjadi vitamin A. Bila Ibu merasa asupan makanan yang mengandung beta karoten atau vitamin A sehari-hari kurang, bicarakan dengan dokter mengenai kemungkinan mengkonsumsi suplementasi vitamin A dengan dosis yang tepat.


Bisakah Hamil Lagi?


Usai menjalani prosedur kuretase, biasanya dokter akan menyarankan Ibu untuk menggunakan kontrasepsi guna menunda kehamilan. Bagi Ibu yang belum pernah melahirkan, dianjurkan untuk mulai hamil lagi minimal setahun ke depan dan dua tahun ke depan bagi Ibu yang sudah pernah melahirkan.

Alasannya bukan semata memastikan kadar hCG di tubuh Ibu sudah normal atau kondisi rahim sudah bersih dari sisa-sisa sel trofoblas. Yang lebih penting lagi adalah mempersiapkan kondisi mental Ibu dalam menghadapi kehamilan. Pada sebagian Ibu, mengalami peristiwa seperti hamil anggur bisa jadi sama seperti kehilangan calon bayi. Rasanya sulit diterima dan meninggalkan kesedihan yang sangat mendalam. Bukan tidak mungkin, Ibu merasa trauma untuk hamil lagi.

Kondisi mental seperti itulah yang harus dipulihkan terlebih dahulu, sebelum Ibu memutuskan untuk hamil lagi. Pasalnya, berpikir positif adalah salah satu syarat penting bagi Ibu hamil untuk menjalani kehamilan yang sehat dan membahagiakan, sehingga pertumbuhan janin pun nantinya berlangsung optimal. Ibu hamil yang diliputi emosi negatif, seperti kesedihan, trauma, bahkan depresi akan menyalurkan energi negatif pula kepada janinnya.

Jadi, jangan khawatir. Riwayat hamil anggur tidak mempengaruhi atau mengurangi kesuburan Ibu. Hanya saja, Ibu yang pernah hamil anggur memiliki risiko sebesar 2% untuk mengalami kondisi serupa. Risiko mengalami hamil anggur semakin besar pada Ibu yang hamil di usia lebih dari 40 tahun atau di usia kurang dari 20 tahun; pernah mengalami hamil anggur; dan pernah keguguran. Akan tetapi, risiko itu bisa dicegah dengan melakukan perencanaan kehamilan yang baik serta pemeriksaan kandungan yang teratur di awal kehamilan. Yang penting Ibu dan Ayah sudah sama-sama siap untuk kembali berusaha mendapatkan momongan.



Monday, November 30, 2015

Perasaan Gelisah dan Takut Menjelang Persalinan

takut melahirkan,perasaan gelisah dan takut menjelang kelahiran,takut bersalin
Tidak sedikit Ibu hamil yang dibayang-bayangi oleh perasaan gelisah dan takut menjelang kelahiran buah hatinya. Tahukah Ibu, ketakutan ini akan menular pada janin sehingga membuatnya menjadi stres?

Proses melahirkan sering digambarkan sebagai perjuangan antara hidup dan mati. Tak heran bila banyak perempuan menganggap proses persalinan sebagai peristiwa menakutkan. Belum lagi dalam banyak tayangan TV atau film sering diperlihatkan adegan Ibu melahirkan yang tampak luar biasa menyakitkan, antara lain ditandai dengan sosok Ibu yang berteriak dan menangis kala melahirkan buah hatinya.

Bukan cuma itu. Ketika bertanya kepada mereka yang pernah melahirkan, rata-rata akan memberikan jawaban serupa: “melahirkan itu sakit, tidak enak, tidak nyaman, dan menyeramkan!” Bahkan, sebagian Ibu justru sengaja memilih melahirkan dengan cara operasi sesar demi menghindari segala “penderitaan” itu dan supaya tidak trauma dengan proses persalinan.


Ibu Hamil Mudah Terpengaruh


Ibu yang sedang hamil berada dalam kondisi emosi berbeda dari perempuan pada umumnya. Secara psikologis, emosi Ibu hamil lebih intens; bukan hanya disebabkan oleh fluktuasi hormon, tetapi juga karena adanya harapan, doa, dan ketakutan akan kondisi kehamilan serta proses persalinan. Maka itu, umumnya Ibu hamil lebih peka dalam menerima informasi, terutama berkaitan dengan kehamilannya.
Apalagi bila informasi itu disampaikan oleh figur yang dipercaya Ibu hamil, seperti pasangan, orangtua, sahabat, bidan, dan dokter. Informasi tersebut akan menjadi sugesti yang kemudian dipercaya oleh Ibu hamil, terutama bila disampaikan secara berulang-ulang.

Misal, seorang sahabat bercerita, ketika hendak melahirkan, dirinya harus menunggu dokter kandungan yang datang terlambat padahal pembukaannya sudah sempurna. Ia ingat betul betapa sakitnya harus menahan diri untuk mengejan selama hampir satu jam karena proses persalinan tidak boleh dilangsungkan sebelum dokter kandungan datang. Contoh lain, pengalaman seorang kerabat yang harus melahirkan anak kembar dalam kondisi prematur. Karena jantung salah satu bayi belum sempurna, akhirnya meninggal dunia tidak lama setelah dilahirkan.

Kisah-kisah seperti itu tak pelak mempengaruhi kondisi psikologis Ibu hamil dan menyebabkan perasaan takut menjelang persalinan. Di benak Ibu hamil pun terbentuk persepsi bahwa melahirkan itu pasti akan terasa menyakitkan, menyeramkan, dan penuh risiko. Padahal, pengalaman melahirkan setiap Ibu pasti berbeda dan tak mungkin sama. Namun, umumnya para Ibu hamil merasa takut akan terjadi apa-apa terhadap bayi maupun dirinya di tengah proses persalinan.

Selain itu, jika Ibu hamil takut, janin juga ikut takut. Bisa dibilang, rahim adalah “sekolahnya” janin. Apa pun yang dirasakan Ibu hamil turut dirasakan oleh janin. Bayangkan bila Ibu hamil merasa ketakutan dan stres setiap hari. Detak jantung semakin cepat, napas menjadi tidak teratur, suplai oksigen kurang, dan yang lebih parah adalah produksi hormon persalinan (oksitosin dan endorfin) akan berkurang, diganti oleh hormon stres (adrenalin dan katekolamin).

Tahukah Ibu, hormon-hormon tersebut juga mengalir ke plasenta dan disalurkan ke janin? Akibatnya bisa timbul berbagai resiko, seperti: janin stres, suplai oksigen dan nutrisi ke janin kurang, serta memicu persalinan prematur.

Nah, apakah Ibu juga mengalami perasaan takut bersalin normal?

Mari cari tahu apa yang dapat Ibu lakukan untuk mewujudkan persalinan yang nyaman dan berkesan positif.


Dukungan Ayah Untuk Menghadapi Perasaan Takut Menjelang Persalinan


Dalam menjalani proses persalinan, Ibu dan Ayah adalah satu tim. Bila Ibu diliputi kegelisahan, ketakutan, dan kepanikan, otomatis akan “menular” ke Ayah. Begitu juga sebaliknya. Oleh sebab itu, baik Ibu maupun Ayah agar sama-sama mempersiapkan diri dalam menghadapi persalinan. Peran Ayah dalam mendukung Ibu mengalami persalinan yang tenang dan nyaman, yaitu :
  • Mampu bersikap tenang dan tidak panik.
  • Mampu menguatkan Ibu, antara lain dengan mengulang-ulang berbagai kalimat positif mengenai persalinan.
  • Memahami apa yang dapat dilakukan untuk menenangkan Ibu, terutama di saat persalinan. Misalnya, dengan ikut kelas hypnobirthing.
  • Ikut serta dalam kelas birth partner sehingga Ayah memahami proses persalinan yang akan dilalui oleh Ibu.
  • Mendampingi Ibu setiap kali melakukan pemeriksaan kandungan.



Monday, November 23, 2015

Jari Tangan Kesemutan Pada Saat Hamil

tangan kesemutan saat hamil,jari tangan kesemutan saat hamil,jari tangan kesemutan pada ibu hamil
Jadi Ibu sering mengalami jari tangan kesemutan saat hamil? Bisa jadi itu gejala Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Pada tahun 2000 -  2001, sebuah kelompok studi di Italia mempelajari terjadinya CTS pada Ibu hamil. Hasilnya ialah, 62% dari responden secara klinis didiagnosis mengalami CTS.

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) merupakan kumpulan gejala yang terjadi pada terowongan karpal (carpal tunnel) yang terletak di pergelangan tangan. Terowongan kecil ini di dalamnya terdapat saraf median dan tendon-tendon yang berguna dalam pergerakan jari-jari tangan, memberikan sensasi perasa atau sentuhan pada jari, serta memberikan tenaga pada otot tangan untuk menjepit dan memegang benda oleh ujung jari.

Tangan kesemutan saat hamil atau CTS dapat terjadi karena beberapa faktor. Misalnya, gerakan tangan yang berulang (seperti : pekerjaan mekanik dimanufakturing), semua hal yang menyebabkan pembengkakan di terowongan karpal (semisal: mengetik di keyboard komputer terlalu lama), kondisi medis lain (seperti: penyakit diabetes melitus dan obesitas), faktor herediter (keturunan), adanya trauma ( dislokasi, patah, hematom (terkumpulnya bekuan darah) di daerah lengan bawah serta pergelangan tangan) perubahan hormon selama kehamilan, dan sebagainya.

Gejala CTS seringkali dirasakan di jari tangan, terutama ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, dan separuh jari manis. Gejala yang muncul biasanya berkembang secara perlahan dan di malam hari akan terasa bertambah parah. Sebagian besar, keluhan ini dapat dialami pada kedua tangan  dan bisa timbul kapan saja, dimana saja.

Keluhan jari tangan kesemutan saat hamil atau CTS juga sering dialami oleh penderita diabetes melitus (DM). Secara normatif, aliran darah penderita DM terganggu atau tidak lancar sehingga lebih mudah terjadi kerusakan sel atau neuropati (kerusakan saraf). Itulah mengapa, bahasa lain dari CTS adalah entrapment neuropati (neuropati jebakan), karena dia terjebak dalam satu kanal.


Jari Tangan Kesemutan (CTS) Pada Ibu Hamil


Jari tangan kesemutan pada Ibu hamil (CTS) sering dialami Ibu hamil di trimester 2, karena tubuh Ibu hamil mulai membesar dan mengalami retensi (penahanan) cairan. Ketika terjadi retensi, tubuh membengkak, lalu menekan saraf medianus.

Adanya perubahan hormonal pada kehamilan yang mempengaruhi sistem otot dan tulang, pengaruh stres seperti ketakutan akan adanya kelainan pada bayi, dan komplikasi pada saat hamil atau melahirkan juga dapat mempengaruhi timbulnya keluhan CTS.

Jari tangan kesemutan saat hamil yang hilang-timbul, merupakan gejala paling ringan dari CTS. Ketika terjadi pembengkakan pada saraf dan tendon-tendon di terowongan karpal, saraf median akan tertekan dan mengakibatkan terjadinya CTS. Saraf median yang tertekan ini akan menimbulkan rasa kesemutan, rasa panas atau nyeri, kaku pada jari yang terasa seperti mengalami pembengkakan, mati rasa, dan yang terparah otot jadi mengecil.

Otot yang mengecil akan membuat otot jari menjadi lemah, terutama ibu jari. Saat Ibu memegang benda-benda ringan, semisal koran atau benda-benda kecil, seperti sendok, garpu, pensil, dan pulpen, tiba-tiba terlepas begitu saja dari tangan. Contoh lainnya, bila Ibu hobby menjahit, maka kemampuan menjahit jadi berkurang karena jari tak mampu menjepit jarum dengan baik.

Bagi Ibu hamil yang bekerja di depan komputer dalam waktu lama, tentu lebih berisiko mengalami CTS. Karena saat mengetik di komputer, posisi pergelangan tangan sampai jari Ibu seringkali tidak rata sehingga mengakibatkan terjadinya penekanan di saraf median. Itu pula yang membuat keluhan terasa bertambah saat malam hari. Sama saat seperti mengetik, ketika Ibu tidur malam terkadang posisi jari tangan juga tertekuk ata tidak netral (rata).


Terapi Tangan Kesemutan Saat Hamil (CTS)


Bila diabaikan, CTS dapat berlangsung terus secara progresif, bahkan semakin memburuk. Keadaan ini umumnya terjadi karena ketidaktahuan akan penyakit tangan kesemutan saat hamil (CTS) dan sering dikacaukan dengan penyakit lain seperti rematik.

Namun, pada Ibu hamil, CTS biasanya tidak terlalu parah. Kebanyakan hanya mengeluh kesemutan dan akan hilang setelah melahirkan. Teorinya memang begitu. Bila kehamilan sudah berakhir, otomatis retensi cairan di tubuh Ibu akan berkurang, jadi CTS bisa sembuh dengan sendirinya, tetapi dapat juga berulang pada kehamilan berikutnya.

Kendati demikian, bila CTS dirasakan sudah sangat mengganggu kenyamanan Ibu, maka sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Batasannya adalah ketika Ibu merasakan otot jari yang lemah, mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari, atau terus berlanjut hingga sebulan setelah melahirkan. Kalau itu semua dialami oleh Ibu, baiknya Ibu segera minta dokter kandungan untuk merujuk ke dokter spesialis saraf dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah berkonsultasi dengan dokter saraf dan keluhan Ibu terbukti cocok dengan gejala CTS, dokter akan melakukan pemerikasaan otot dan sensorik Ibu. Ibu akan diminta melakukan tes pallen, yaitu menempelkan punggung tangan kiri dengan punggung tangan kanan menghadap ke atas, atau melalui pressure test. Bila Ibu merasakan nyeri di area pergelangan tangan atau jari-jari, berarti positif CTS secara klinis.

Selanjutnya, hasil pemeriksaan klinis Ibu akan dikonfirmasi kembali dengan pemeriksaan EMG (Elektromiografi: teknik untuk memeriksa dan merekam aktivitas sinyal otot). Dicek lagi, benarkah ada CTS atau tidak. Kalau Ibu positif CTS berdasarkan klinis dan pemeriksaan EMG, dokter akan meminta Ibu untuk melanjutkan terapi. Setelah terapi, dokter akan mengevaluasi lagi secara klinis.

Terapi dilakukan dengan pemberian obat yang disesuaikan tingkatan gejalanya. Untuk gejala tangan kesemutan saat hamil (CTS) ringan dan sedang, bisa diatasi dengan obat anti inflamasi, membalut pergelangan tangan dengan bebat atau papan, serta suntikan hormon kortikosteroid (salah satu hormon yang mengatur metabolisme tubuh). Dapat pula dilakukan dengan fisioterapi. Ada juga occupational therapy untuk memperbaiki fungsi tangan setelah keluhan menghilang atau sembuh. Di terapi ini, Ibu akan dilatih dan diajarkan gerakan-gerakan tertentu agar tidak menderita CTS lagi.

Bila beragam proses pengobatan ringan dan sedang tidak juga berhasil, prosedur operasi mungkin dilakukan setelah melalui berbagai pemeriksaan. Namun, jangan khawatir. Seperti sudah disinggung diatas, CTS pada kehamilan biasanya bersifat ringan dan akan hilang sendiri setelah Ibu melahirkan.