Monday, February 23, 2015

Menyambut Si Kecil Trimester Pertama : Kontrol Pertama

kontrol pertama kehamilan
Begitu ibu menyadari tengah berbadan dua, segera buat janji dengan bidan/dokter kandungan. Minta Ayah untuk menyisihkan waktu untuk menemani ibu di kunjungan pertama ini.

Ada sebagian ibu yang bertanya-tanya, apa sajakah yang diperiksa saat kontrol pertama kehamilan, berikut penjelasannya :


Anamnesis (Wawancara)


Dengan lebih mengenal riwayat kesehatan ibu hamil dan kehamilan ibu, dokter akan memberikan saran terbaiknya. Caranya dengan berbincang-bincang, sehingga ia dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengidentifikasi dan merencanakan tindakan perawatan. Selain data identitas calon ibu dan ayah, juga akan dikumpulkan informasi yang berkaitan dengan kehamilan seperti : lama terlambat haid dan tanggal HPHT (hari pertama haid terakhir); perubahan yang dirasakan calon ibu; riwayat kehamilan sebelumnya (jika bukan kehamilan pertama), semisal pernah/tidak keguguran/digugurkan, operasi sesar, hamil diluar kandungan, riwayat penyakit keluarga maupun penyakit yang sedang diderita, seperti kencing manis, hipertensi, dan lainnya; kebiasaan hidup tidak sehat, dan semua materi atau informasi tersebut akan dicatat dan dibukukan dalam buku rekam medis.


Pemeriksaan Fisik


Berat badan sehat akan menentukan kondisi kehamilan, kondisi janin, bahkan lancarnya persalinan. Untuk itu, ibu akan ditimbang berat badannya. Kontrol pertama bertujuan untuk mengetahui berat badan ibu, sehingga dokter bisa mempunyai patokan seberapa banyak kenaikan berat badan yang diperlukan selama kehamilan. Selain juga untuk mengetahui apakah berat badan ibu ideal atau tidak. Idealnya, saat mulai hamil, berat badan ibu antara 45-65 kg.

Ibu pun akan diukur tekanan darahnya yang normalnya adalah 120/80. Denyut nadi juga akan dihitung guna memantaudenyut jantung ibu. Idealnya, denyut jantung adalah kurang lebih 80 denyut/menit. Dokter juga akan memeriksa perut dan kaki ibu. Pemeriksaan perut untuk melihat ada tidaknya bekas operasi, kemungkinan benjolan, dan nyeri tekan. Sedangkan pemeriksaan kaki untuk melihat ada tidak pembengkakan dan varises.


Pemeriksaan Kehamilan


Ibu juga akan di USG (ultrasonografi) untuk mengetahui usia kehamilan (terutama bagi yang siklus haidnya tidak teratur), selain memastikan ada tidak janin dan lokasi kantong kehamilan di dalam atau justru di luar rahim (kehamilan ektopik).

Pada kehamilan di bawah 8 minggu, pemeriksaan USG dilakukan dengan cara memasukkan probe USG transvaginal (seperti melakukan pemeriksaan dalam). Cara ini lebih mudah dan lebih jelas karena bisa lebih dekat dengan rahim (daya tembusnya 8-10 cm dengan resolusi tinggi), serta tidak menyebabkan keguguran. Setelah kehamilan lebih dari 12 minggu, pemeriksaan USG dilakukan dengan meletakkan probe USG di atas perut. Daya tembusnya bisa 15 cm namun resolusinya berkurang.

Saat kontrol pertama kehamilan, periksa dalam juga dilakukan bila dicurigai adanya kelainan/gangguan. Misal, muncul keputihan yang tidak normal (disertai bau, gatal, dan berwarna) atau keluar flek yang dikhawatirkan merupakan gejala keguguran. Periksa dalam dilakukan dengan menggunakan sebuah alat yang dinamakan spekulum, berbentuk seperti dua sendok layaknya paruh bebek, sehingga dalam bahasa awam disebut cocor bebek, berfungsi untuk membuka vagina sehingga dapat dilihat bila ada kelainan sampai bagian mulut rahim. Dokter akan memasukkan telunjuk dan jari tengahnya ke dalam vagina (tentu sebelumnya dokter telah menggunakan sarung tangan steril) sedalam kira-kira 8-11 cm, bergantung pada ukuran atau panjang vagina.

Jika memang ada kehamilan akan teraba adanya pembesaran rahim dan tanda hegar (terabanya antara mulut rahim dan badan rahim seolah terpisah). Periksa dalam juga bertujuan untuk mengevaluasi jalan lahir apakah ada kelainan atau tidak semisal varises di vagina, infeksi keputihan, polip atau tumor di mulut rahim, yang bisa mempengaruhi kehamilan ibu. Itulah mengapa, periksa dalam seharusnya dilakukan di awal kehamilan (dengan atau tanpa ada indikasi/keluhan) supaya bila ada suatu kelainan dapat diketahui dan ditangani dengan segera.

Mengingat pentingnya pemeriksaan awal kehamilan, maka pemeriksaan ini adalah suatu hal yang wajib dilakukan oleh setiap ibu hamil.




Wednesday, January 21, 2015

Melahirkan Di Rumah (Home Birth) Tanpa Masalah

Melahirkan Di Rumah (Home Birth) Tanpa Masalah
Ada beberapa hal yang tidak dimiliki oleh rumah sakit sehingga ibu hamil memilih melahirkan di rumah saja. Apakah ini hanya sekedar trend yang sedang berkembang?

Ketika rumah sakit atau klinik bersalin belum ada, dimanakah ibu yang sedang hamil besar melahirkan ?

Di rumah tentunya, seperti yang dialami oleh eyang atau nenek buyut kita dulu. Tak peduli apakah beliau itu tinggal di tengah kota atau di desa.

Namun zaman pun berputar dan berubah. Belakangan, melahirkan di rumah (home birth) kembali jadi pilihan, dan yang memilihnya adalah para calon ibu yang sebetulnya bisa melahirkan di klinik bersalin atau rumah sakit.

Tak hanya di Indonesia, ibu hamil di Amerika Serikat pun sekarang banyak yang memilih melahirkan di rumah. Data resmi dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pemberantasan Penyakit di Amerika menunjukkan, jumlah ibu yang melahirkan di rumah mengalami peningkatan sebesar 30% selama 2004-2009.

Lalu kenapa ibu hamil memilih bersalin di rumah? Apa yang tengah terjadi dengan rumah sakit atau klinik bersalin?

Rumah sakit atau klinik bersalin masih menyenangkan kok bagi sebagian besar ibu hamil di perkotaan. Cuma, kalau mereka mulai memilih bersalin di rumah, tentu karena mereka menemukan keuntungan lainnya yang boleh jadi tidak bisa diberikan rumah sakit.

Banyak ibu hamil yang menganggap bersalin di rumah lebih nyaman dan jauh lebih murah. Selain itu, tenaga kesehatan yang membantu bisa fokus pada satu pasien, sehingga ibu akan lebih mudah merasa relaks, dan risiko infeksi nosokomial bisa dihindari. Kemudian setelah persalinan, ibu dan bayi dapat bersama-sama selalu sehingga mampu meningkatkan boundingnya dengan bayi serta keluarga.

Menurut para ahli persalinan di rumah, ibu hamil akan mendapatkan perhatian yang penuh dari orang yang memiliki hubungan personal dengannya. Privacy pun lebih terjaga. Dan pada akhirnya ibu hamil akan merasa lebih nyaman saat melahirkan.

Dan seperti kita tahu, soal kenyamanan merupakan salah satu faktor terpenting yang harus dipunyai seorang ibu yang mau melahirkan. Sistem tubuh baru akan bekerja lebih baik saat kondisi nyaman. Itulah mengapa banyak orang yang dapat tidur lelap di rumah sendiri, tapi tidak saat berada di tempat lain. Itu karena pada kondisi tertentu sistem otot dan hormonal di dalam tubuh tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal yang kurang lebih sama berlaku buat persalinan. Bila lingkungan nyaman, hormon-hormon yang membantu persalinan (hormon oksitosin) akan keluar dengan maksimal.

Nyaman sudah. Tapi apakah cukup aman melahirkan di rumah ?

Perlu diperhatikan, bahwa persalinan di rumah juga penuh resiko. Misal, saat menghadapi kasus emergency dan harus segera dibawa ke rumah sakit akan butuh waktu yang relatif lebih lama. Padahal saat itu keselamatan ibu dan bayi berpacu dengan waktu.

Itu baru satu kasus. Kasus lainnya, bisa saja mendadak ditemukan penyulit di tengah proses persalinan. Sementara di rumah sangat terbatas personel dan peralatan medis.

Bahkan sampai saat ini pun belum ada regulasi yang menaungi baik dari sisi keamanan pasien maupun keamanan praktik tenaga kesehatan. Karenanya, untuk menyanggupi permintaan pendampingan persalinan di rumah tidak bisa serampangan, butuh seleksi dan feel, mana yang bisa dituruti dan mana yang tidak.

Namun, ada juga ibu hamil yang nekat. Meski harusnya didampingi nakes atau tenaga kesehatan, ia tetap melahirkan di rumah tanpa pendampingan tersebut. Jika memang hal ini yang dipilih, pastikan ibu hamil dan keluarga yang mendampingi, memahami resiko yang mungkin timbul dari keputusan ini.

Tak kalah penting, ibu hamil, suami dan keluarga harus memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai persalinan dan perawatan bayi baru lahir, juga tindakan yang harus dilakukan jika ada faktor penyulit di tengah proses kelahiran. Jadi, lakukanlah perencanaan dengan matang. Misalnya, terus-menerus melakukan pelatihan (simulasi) persalinan, serta memberi pengertian dan melibatkan semua pihak yang mungkin diperlukan saat persalinan.

Karenanya, persalinan di rumah hanya diperkenankan bagi ibu yang risiko kehamilannya rendah. Apabila kehamilannya dinyatakan berisiko tinggi, maka rumah sakit harus menjadi pilihan utama.
Kita patut bersyukur karena nenek atau eyang buyut kita dikaruniai kesehatan yang prima-sehingga amn-aman saja mereka melahirkan anak-anaknya di rumah.

Melahirkan di rumah memang nyaman, karenanya kembali diminati. Namun semoga ini bukan sekedar trend, apalagi demi gaya hidup yang keren, karena faktor keamanan tetap yang utama, jangan sampai terabaikan.


Friday, October 3, 2014

Penyebab, Tanda-Tanda dan Pencegahan Kelahiran Bayi Prematur Pada Kehamilan

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai penyebab, tanda-tanda dan pencegahan kelahiran bayi prematur pada kehamilan. Istilah persalinan prematur dikenal dengan persalinan preterm atau persalinan maju. Persalinan ini terjadi di usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan cenderung bermasalah karena kondisi bayi sebenarnya belum siap dilahirkan.

Berat badan lahir bayi prematur umumnya kurang dari 2500 gram. Paru-parunya belum matang sehingga meningkatkan risiko Respiratory Distress Syndrome (sindrom gawat napas). Bayi prematur juga rentan mengalami perdarahan otak dan sepsis (infeksi berat). Tak heran jika persalinan preterm sering dikatakan memiliki risiko morbiditas (sakit) dan mortalitas (kematian) bayi yang tinggi.



Penyebab Persalinan Prematur


penyebab kelahiran prematur, faktor penyebab bayi prematur, penyebab bayi lahir prematur, penyebab persalinan preterm, sebab kelahiran prematur, faktor penyebab kelahiran prematur, sebab bayi lahir prematur, kenapa bayi lahir prematur, penyebab persalinan prematur, penyebab melahirkan prematur
Berikut ini adalah beberapa penyebab persalinan prematur :
  • Ketuban pecah dini.
  • Infeksi.
  • Kehamilan kembar.
  • Kelainan rahim.
  • Riwayat persalinan prematur.
  • Solusio plasenta (plasenta lepas).
  • Penyakit ibu (preeklamsia).
  • Status sosio-ekonomi rendah.
  • Ibu dengan mulut rahim lemah.



Tanda-Tanda Dan Tindakan Medis Yang Harus Dilakukan



tanda-tanda kelahiran prematur, tanda kelahiran prematur, 6 tanda kelahiran prematur, tanda tanda melahirkan bayi prematur, tanda tanda melahirkan prematur, tanda tanda lahir prematur, tanda kelahiran prematur, tanda tanda persalinan prematur, tanda dan gejala prematur
Berikut ini adalah tanda-tanda dari akan terjadinya persalinan prematur, dan tindakan medis yang harus dilakukan untuk mengatasinya :
  • Adanya kontraksi kuat dan teratur di usia kehamilan kurang dari 37 minggu, bahkan disertai air ketuban yang keluar dan mulai mengering.
  • Di rumah sakit akan dilakukan pemeriksaan USG dan CTG untuk menilai kondisi kesejahteraan janin.
  • Ibu juga akan menjalani pemeriksaan dalam. Bila terlihat sudah ada pembukaan dan kepala bayi sudah masuk ke pintu atas panggul berarti sudah terjadi proses persalinan.
  • Pada kasus ini upaya pematangan paru-paru janin tidak sempat lagi dilakukan karena ibu sudah menghadapi proses persalinan. Perlu diketahui, paru-paru janin baru matang di atas usia kehamilan 37 minggu.
  • Pematangan paru janin masih memungkinkan jika belum ada pembukaan ditambah kontraksi belum kuat dan teratur. Terjadinya kontraksi akan dicegah dengan pemberian tokolitik (antikontraksi).
  • Pada ibu dengan mulut rahim lemah, persalinan preterm dapat dicegah dengan obat yang dapat menghilangkan kontraksi. Alternatif lain, bisa dilakukan penjahitan mulut rahim pada usia kehamilan 12-14 minggu. Begitu janin cukup bulan, jahitan dilepas agar bayi bisa dilahirkan. Tindakan penjahitan ini tentu bergantung pada persetujuan pasien. Apabila ada tanda-tanda persalinan prematur, ibu perlu dilarikan ke rumahsakit yang memiliki fasilitas ruang perawatan NICU. Sebab begitu dilahirkan, bayi prematur akan segera masuk ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Penanganan persalinan prematur juga membutuhkan kerja sama antara dokter kebidanan dan kandungan dengan dokter anak Sub Spesialis Perinatologi (dokter yang menangani kesehatan janin dan bayi baru lahir).



Pencegahan Kelahiran Prematur



pencegahan kelahiran prematur, menghindari kelahiran prematur, mencegah bayi lahir prematur, cara mencegah bayi lahir prematur, cara mencegah bayi lahir premature, mencegah kelahiran prematur
Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kelahiran prematur :
  • Pemeriksaan kehamilan/antenatal care (ANC) yang baik dapat mencegah terjadinya persalinan prematur. Paling tidak lakukan periksa hamil sebulan sekali sampai usia kehamilan 37 minggu, meskipun tidak ada keluhan.
  • Jika ada keluhan, periksa hamil dapat lebih cepat dilakukan. Tindakan ini demi menghindari terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.
  • Setelah usia kehamilan 37 minggu disarankan kontrol kehamilan dilakukan setiap minggu.
  • Periksa kehamilan amat bermanfaat antara lain untuk mengetahui perkembangan janin, ada tidaknya kecacatan, termasuk tanda-tanda persalinan a preterm.



Mengenal Istilah Persalinan


Ada beberapa istilah dalam persalinan, yakni persalinan normal (aterm), persalinan maju/prematur (preterm) dan persalinan lewat waktu (posterm). Normalnya, seorang ibu hamil akan melahirkan di sekitar usia kehamilan 38-41 minggu atau 9 bulan 2 minggu. Usia itulah yang dikatakan usia cukup bulan. Di atas 41 minggu, ibu sudah masuk persalinan lewat bulan. Sementara  persalinan di usia kurang dari 37 minggu, seperti yang telah dibahas di atas, disebut dengan persalinan maju/prematur.


Jika anda membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai seputar masalah kehamilan, silahkan kunjungi situs berikut ini ... PANDUAN LENGKAP UNTUK IBU HAMIL.