Wednesday, March 11, 2015

Menyambut Si Kecil Trimester 3 : Ibu Hamil Sungsang

ibu hamil sungsang
Bila posisi bayi sungsang atau melintang masih dapat berputar ke posisi normal dengan trik khusus. Tingkat keberhasilannya mencapai 90%.

Normalnya, menjelang kelahiran, posisi janin adalah kepala di bawah, kaki di atas. Tapi, ada calon ibu yang posisi janinnya abnormal. Oleh kebanyakan orang, posisi ini kerap disebut sungsang. Sedangkan di dunia kedokteran disebut malpresentasi.

Ada 4 tipe malpresentasi, yaitu posisi bayi melintang dan sungsang. Bayi disebut melintang dalam kandungan jika posisinya horizontal (transverse pregnancy), sumbu tubuh bayi melintang terhadap sumbu tubuh ibu, dengan kepala pada sisi samping rahim yang satu dan bokong atau kaki pada sisi yang lain. Sedangkan sungsang adalah posisi bayi sejajar dengan sumbu tubuh ibu tapi kepala bayi ada di atas.

Sementara itu, janin yang sungsang, memiliki 3 variasi pada posisi kaki :
  1. Frank Breech, bokong janin berada di bawah dengan kedua tungkai terangkat ke atas hampir menyentuh telinga, posisi hampir sejajar dengan bahu atau kepala. Sebanyak 65-70% janin sungsang adalah posisi Frank breech.
  2. Complete Breech atau sungsang sempurna yaitu jika bokong janin berada di atas mulut rahim sementara kedua kaki terlipat sempurna, menghadap ke atas sejajar dengan telinga. Jika dilihat dengan sekilas, janin seperti sedang berjongkok.
  3. Incomplete Breech atau sungsang tidak sempurna jika satu kaki janin berada di atas dan kaki lainnya berada di bawah.

Hampir semua janin dalam posisi sungsang  di usia kehamilan 28 minggu, yakni posisi kepala berada di bawah tulang rusuk ibu. Sampai kehamilan 28 minggu, janin masih bebas bergerak sesukanya karena berat masih lebih ringan dibandingkan rahim dan ukurannya masih kecil. Ketika usia kehamilan masuk minggu ke 34, umumnya janin sudah berada dalam posisi tetap atau tidak berubah lagi.


Penyebab Malpresentasi


Ada 3 penyebab posisi bayi melintang atau sungsang, yaitu faktor janin, faktor ibu, dan faktor ari-ari atau plasenta. Pada penyebab yang berasal dari faktor janin, kasusnya cukup beragam. Pertama, ketika ukurannya lebih kecil dibandingkan rahim, maka janin akan bebas berputar, baik ke atas maupun ke bawah sehingga bisa terjadi malpresentasi. Malpresentasi juga bisa terjadi jika ukuran bayi sudah cukup besar untuk berputar, sementara posisi kepala masih di atas atau di samping. Kepala yang harusnya bisa melewati panggul menuju posisi normal akhirnya “terpental” kembali karena kepala janin sudah lebih besar daripada rongga panggul ibu. Janin pun sulit berputar ke arah bawah. Pada kasus janin kembar, kemungkinan malpresentasi menjadi lebih besar sebab janin saling berdesakan. Pada beberapa kasus janin kembar, desakan tersebut bisa menghalangi janin untuk masuk ke posisi normal.

Jika penyebab posisi melintang adalah faktor ibu, umumnya karena ibu memiliki bentuk rahim yang tidak normal, air ketuban yang terlalu banyak, pinggul terlalu sempit, dan tumor pada rongga panggul atau rahim (miom atau kista ovarium). Kasus multigravida pada ibu yang sudah melahirkan banyak anak terutama lebih dari 5 juga bisa menjadi penyebab. Pada kondisi ini rahim jadi lebih tegang dibandingkan dengan kehamilan yang normal.

Untuk penyebab yang berasal dari ari-ari, umumnya janin melintang karena kasus plasenta previa (letak plasenta di bawah menutup jalan lahir). Plasenta previa dapat mengurangi luas ruang rahim sehingga bayi berputar-putar, berusaha mencari tempat yang lebih luas yaitu di bagian atas atau samping. Penyebab lain bayi melintang adalah relaksasi / peregangan dinding perut akibat proses persalinan sebelumnya yang belum sempurna atau ibu pernah melahirkan 4 kali atau lebih.


Deteksi dan Penanganan


Umumnya posisi malpresentasi janin dapat diketahui saat pemeriksaan rutin dengan rabaan luar perut. Jika bagian atas atau samping perut terasa keras dan besar, diperkirakan terjadi malpresentasi janin. Cara lainnya dengan USG dan pemeriksaan bagian dalam dengan menggunakan jari.

Jika sudah pasti terjadi malpresentasi atau sungsang, dokter akan menyarankan ibu untuk sering-sering melakukan posisi sujud (nungging dengan dada menempel di lantai), posisi perut seakan-akan menggantung ke bawah. Jika posisi ini dilakukan dengan teratur segera setelah ada kepastian dari dokter (biasanya di minggu ke 34), kesempatan bayi mencapai posisi lahir normal cukup besar yaitu sekitar 90%, terutama jika latihan dilakukan di awal trimester 3. Dengan catatan tidak ada faktor yang sangat menghalangi posisi bayi untuk berputar.

Cara lain untuk merubah posisi janin melintang menjadi normal adalah dengan cara versi luar (externalcephalic version / ECV). Sesuai dengan namanya, versi luar adalah tindakan mengubah posisi janin melintang dari luar. Tindakan akan segera dihentikan bila ibu merasa sakit (otot rahim kejang, misalnya) atau tak sengaja tindakan tersebut melepas plasenta. Versi luar tak bisa dilakukan bila letak plasenta ada di bawah sebab janin tidak mungkin bisa diputar.

Saat ini tindakan versi luar sudah sangat jarang dilakukan karena dianggap cukup berisiko. Kalaupun dilakukan, risiko harus diperkecil dengan memilih lokasi rumah sakit yang memiliki fasilitas pembedahan sesar emergensi.

Tuesday, March 3, 2015

Menyambut Si Kecil Trimester II : Mengusir Nyeri Punggung

Mengusir Nyeri Punggung Pada Ibu Hamil
Kabar baiknya ialah nyeri punggung pada ibu hamil akan berkurang secara bertahap setelah ibu melahirkan. Sementara itu, ada banyak hal yang dapat ibu lakukan untuk mengatasinya. Berikut adalah caranya :
  1. Berolahragalah. Olahraga teratur memperkuat otot dan meningkatkan fleksibilitas. Olahraga juga dapat mengurangi tekanan pada tulang belakang ibu. Latihan yang aman bagi kebanyakan ibu hamil adalah berjalan, berenang, dan bersepeda statis. Ibu hamil juga bisa menanyakan pada dokter atau ahli terapi fisik untuk merekomendasikan latihan yang dapat memperkuat punggung dan perut ibu.
  2. Terapi Panas Dan Dingin. Menerapkan terapi panas dan dingin di punggung dapat membantu. Coba konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kebidanan, jika disetujui mulailah dengan menempatkan kompres dingin (seperti kantong es atau sayuran beku dibungkus handuk) pada daerah yang terasa nyeri sekitar 20 menit beberapa kali sehari. Setelah dua atau tiga hari, beralih ke terapi panas dengan menempatkan bantal pemanas atau botol air panas/hangat pada punggung. Namun hati-hati, terapi panas dan dingin (terutama terapi panas) tidak bisa diterapkan di perut selama kehamilan.
  3. Konseling. Stres emosional dapat menyebabkan ketegangan otot di punggung, yang dapat dirasakan sebagai nyeri punggung atau kejang punggung. Jika sakit ibu berhubungan dengan stres, berbicaralah dengan seorang teman terpercaya atau konselor.
  4. Akupunktur. Akupunktur adalah bentuk pengobatan Tiongkok dimana jarum tipis dimasukkan ke dalam kulit di lokasi tertentu. Penelitian menunjukkan akupunktur dapat efektif mengurangi nyeri punggung selama kehamilan. Jika tertarik untuk mencoba, ibu bisa berkonsultasi pada akupunkturis.
  5. Chiropractic. Ketika dilakukan dengan benar, manipulasi chiropractic tulang belakang dapat aman selama kehamilan. Tetapi berkonsultasilah dengan dokter kebidanan sebelum mencari perawatan chiropractic.



Perhatikan Postur Tubuh


Postur tubuh ibu hamil juga berperan untuk mengurangi nyeri punggung pada kehamilan. Silahkan ibu coba tips-tips dibawah ini :
  1. Berdiri Tegak. Memang agak sulit karena perubahan tubuh yang ibu alami, tetapi cobalah untuk membuat posisi bokong ibu tegak lurus dengan bahu. Saat perut membesar, ibu hamil cenderung merosotkan bahu dan melengkungkan punggung sehingga menempatkan lebih banyak tekanan pada tulang belakang.
  2. Perbaiki Postur Tubuh. Membungkuk bisa membebani tulang belakang ibu. Jadi, perhatikan postur tubuh yang tepat saat bekerja, duduk, atau tidur. Contoh, tidur menyamping dengan bantal diantara lutut akan mengurangibeban punggung ibu. Ketika duduk di meja, tempatkan gulungan handuk di belakang punggung ibu untuk dukungan. Istirahatkan kaki pada tumpukan buku atau bangku kecil lalu duduklah dengan bahu tegak.
  3. Ambil Waktu Istirahat Dari Duduk. Bangun dan berjalan-jalan setidaknya setiap satu jam.
  4. Hindari Berdiri Terlalu Lama. Jika ibu perlu berdiri sepanjang hari, cobalah beristirahat siang dengan berbaring menyamping dan menaruh bantal di kaki atas serta bagian perut.
  5. Pakailah Sepatu Yang Nyaman. Hindari sepatu hak tinggi. Perut yang membesar akan membuat keseimbangan ibu hamil terganggu. Mengenakan sepatu hak tinggi tentu akan memperbesar risiko ibu hamil untuk tersandung dan jatuh.
  6. Tekuklah Lutut. Tekuklah lutut (seperti posisi berjongkok) saat memungut barang. Cara ini dapat meminimalkan tekanan pada punggung. Atau biarkan orang lain menolong saat ibu harus mengangkat barang berat.
  7. Bagilah Berat Barang Yang Harus Dibawa. Membawa satu tas belanja di tangan kanan, dan lainnya di tangan kiri akan jauh lebih baik daripada memberi beban berat pada satu tangan saja.
Jika semua cara diatas sudah dicoba, namun nyeri punggung masih sangat mengganggu, pastikan ibu berkonsultasi dengan dokter kebidanan sebelum mengambil obat nyeri. Dalam beberapa kasus, dokter dapat merekomendasikan obat nyeri yang aman selama kehamilan, seperti acetaminophen (Tylenol) yang telah terbukti aman pada kebanyakan ibu hamil. Namun aspirin dan obat nonsteroidal anti-inflammatory (NSAID) seperti ibuprofen (Advil, Motrin) atau nanoproxen (Aleve) tidak disarankan.

Monday, February 23, 2015

Menyambut Si Kecil Trimester Pertama : Kontrol Pertama

kontrol pertama kehamilan
Begitu ibu menyadari tengah berbadan dua, segera buat janji dengan bidan/dokter kandungan. Minta Ayah untuk menyisihkan waktu untuk menemani ibu di kunjungan pertama ini.

Ada sebagian ibu yang bertanya-tanya, apa sajakah yang diperiksa saat kontrol pertama kehamilan, berikut penjelasannya :


Anamnesis (Wawancara)


Dengan lebih mengenal riwayat kesehatan ibu hamil dan kehamilan ibu, dokter akan memberikan saran terbaiknya. Caranya dengan berbincang-bincang, sehingga ia dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengidentifikasi dan merencanakan tindakan perawatan. Selain data identitas calon ibu dan ayah, juga akan dikumpulkan informasi yang berkaitan dengan kehamilan seperti : lama terlambat haid dan tanggal HPHT (hari pertama haid terakhir); perubahan yang dirasakan calon ibu; riwayat kehamilan sebelumnya (jika bukan kehamilan pertama), semisal pernah/tidak keguguran/digugurkan, operasi sesar, hamil diluar kandungan, riwayat penyakit keluarga maupun penyakit yang sedang diderita, seperti kencing manis, hipertensi, dan lainnya; kebiasaan hidup tidak sehat, dan semua materi atau informasi tersebut akan dicatat dan dibukukan dalam buku rekam medis.


Pemeriksaan Fisik


Berat badan sehat akan menentukan kondisi kehamilan, kondisi janin, bahkan lancarnya persalinan. Untuk itu, ibu akan ditimbang berat badannya. Kontrol pertama bertujuan untuk mengetahui berat badan ibu, sehingga dokter bisa mempunyai patokan seberapa banyak kenaikan berat badan yang diperlukan selama kehamilan. Selain juga untuk mengetahui apakah berat badan ibu ideal atau tidak. Idealnya, saat mulai hamil, berat badan ibu antara 45-65 kg.

Ibu pun akan diukur tekanan darahnya yang normalnya adalah 120/80. Denyut nadi juga akan dihitung guna memantaudenyut jantung ibu. Idealnya, denyut jantung adalah kurang lebih 80 denyut/menit. Dokter juga akan memeriksa perut dan kaki ibu. Pemeriksaan perut untuk melihat ada tidaknya bekas operasi, kemungkinan benjolan, dan nyeri tekan. Sedangkan pemeriksaan kaki untuk melihat ada tidak pembengkakan dan varises.


Pemeriksaan Kehamilan


Ibu juga akan di USG (ultrasonografi) untuk mengetahui usia kehamilan (terutama bagi yang siklus haidnya tidak teratur), selain memastikan ada tidak janin dan lokasi kantong kehamilan di dalam atau justru di luar rahim (kehamilan ektopik).

Pada kehamilan di bawah 8 minggu, pemeriksaan USG dilakukan dengan cara memasukkan probe USG transvaginal (seperti melakukan pemeriksaan dalam). Cara ini lebih mudah dan lebih jelas karena bisa lebih dekat dengan rahim (daya tembusnya 8-10 cm dengan resolusi tinggi), serta tidak menyebabkan keguguran. Setelah kehamilan lebih dari 12 minggu, pemeriksaan USG dilakukan dengan meletakkan probe USG di atas perut. Daya tembusnya bisa 15 cm namun resolusinya berkurang.

Saat kontrol pertama kehamilan, periksa dalam juga dilakukan bila dicurigai adanya kelainan/gangguan. Misal, muncul keputihan yang tidak normal (disertai bau, gatal, dan berwarna) atau keluar flek yang dikhawatirkan merupakan gejala keguguran. Periksa dalam dilakukan dengan menggunakan sebuah alat yang dinamakan spekulum, berbentuk seperti dua sendok layaknya paruh bebek, sehingga dalam bahasa awam disebut cocor bebek, berfungsi untuk membuka vagina sehingga dapat dilihat bila ada kelainan sampai bagian mulut rahim. Dokter akan memasukkan telunjuk dan jari tengahnya ke dalam vagina (tentu sebelumnya dokter telah menggunakan sarung tangan steril) sedalam kira-kira 8-11 cm, bergantung pada ukuran atau panjang vagina.

Jika memang ada kehamilan akan teraba adanya pembesaran rahim dan tanda hegar (terabanya antara mulut rahim dan badan rahim seolah terpisah). Periksa dalam juga bertujuan untuk mengevaluasi jalan lahir apakah ada kelainan atau tidak semisal varises di vagina, infeksi keputihan, polip atau tumor di mulut rahim, yang bisa mempengaruhi kehamilan ibu. Itulah mengapa, periksa dalam seharusnya dilakukan di awal kehamilan (dengan atau tanpa ada indikasi/keluhan) supaya bila ada suatu kelainan dapat diketahui dan ditangani dengan segera.

Mengingat pentingnya pemeriksaan awal kehamilan, maka pemeriksaan ini adalah suatu hal yang wajib dilakukan oleh setiap ibu hamil.