Tuesday, September 15, 2015

Olahraga Yang Aman Untuk Ibu Hamil Trimester 2

olahraga untuk ibu hamil
Olahraga untuk Ibu hamil sangat diperlukan agar tercapai kondisi tubuh yang sehat dan bugar dalam rangka untuk menjalani proses persalinan yang lancar. Dalam berolahraga, Ibu perlu memperhatikan program latihan yang mencakup jenis, frekuensi, durasi dan intensitasnya.

Sebelum kita berolahraga, pertama-tama cari tahu tujuannya dahulu. Tujuan berolahraga dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu untuk mengejar prestasi, mendapatkan unsur kesenangan, dan mencapai kesehatan serta kebugaran.

Untuk Ibu hamil tujuannya tentulah untuk mencapai kesehatan serta kebugaran. Bila demikian, maka parameter kesehatan dan kebugaran harus muncul. Maksudnya, dengan berolahraga, maka derajat kebugaran harus bertambah.

Jadi, kalau Ibu cepat merasa sesak napas saat berjalan, maka dengan berolahraga, gangguan tersebut seharusnya dapat mereda. Bila Ibu punya keluhan tekanan darah tinggi, olahraga juga dapat menjadi sarana untuk membantu menurunkannya. Kondisi sehat dan bugar diperlukan Ibu hamil untuk menjalani proses persalinan yang lancar.

Namun, sebelum berolahraga, Ibu perlu berkonsultasi dengan dokter. Dari pemeriksaan dapat diketahui batasan-batasan berolahraga terkait kondisi kesehatan Ibu serta olahraga apa yang cocok atau tidak boleh dilakukan.


Olahraga Untuk Ibu Hamil Maksimal 6 Kali Seminggu


Dalam berolahraga, kita perlu memperhatikan program latihan yang mencakup jenis, frekuensi, durasi, dan intensitasnya.

Untuk jenis latihan, dalam program harus ada latihan olahraga aerobik, yaitu jenis latihan yang membuat jantung dan paru-paru bekerja lebih keras untuk memasok otot dengan oksigen. Olahraga untuk Ibu hamil yang termasuk dalam jenis latihan ini diantaranya berjalan, berlari, dan berenang.

Frekuensi olahraga yang disarankan bagi Ibu hamil di trimester ke 2 adalah 2-3 kali seminggu. Setelah mulai terbiasa berolahraga saat hamil dan menunjukkan perbaikan kebugaran, frekuensi latihan dapat ditingkatkan menjadi 4-5 kali seminggu, maksimal 6 kali seminggu karena tubuh membutuhkan setidaknya satu hari untuk memulihkan kondisi. Setiap melakukan latihan, durasi yang disarankan adalah 30 menit.

Sedangkan intensitas latihan olahraga untuk Ibu hamil dapat ditentukan dengan menambah jarak atau kecepatan latihan. Jika Ibu biasa berjalan kaki 15 menit, misal, maka peningkatan intensitas latihan bisa dilakukan dengan menambah waktu menjadi 30 menit.


Hitung Denyut Jantung


Mengukur denyut jantung merupakan cara paling akurat untuk menentukan intensitas latihan olahraga saat hamil. Kita dapat memakai rumus denyut jantung maksimal, yaitu : 220 dikurangi usia. Untuk Ibu hamil, intensitas latihan disarankan berkisar antara 50-70% dari denyut jantung maksimal. Contoh, usia Ibu 30 tahun, maka denyut jantung maksimalnya adalah 220 dikurangi 30 = 190 denyut per menit. Setelah berolahraga, denyut jantung tidak boleh melebihi 50-70%-nya atau sekitar 95-133 denyut per menit.

Denyut jantung yang terlalu cepat menandakan kita berolahraga terlalu berat. Jika denyut jantung Ibu terlalu cepat, denyut jantung janin pun akan meningkat dan ikut menaikkan suhu tubuhnya. Hal ini dapat membahayakan Ibu dan janin. Sebaliknya, jika denyut jantung terlalu rendah, tujuan olahraga untuk ibu hamil demi kesehatan dan kebugaran yang lebih baik juga tidak tercapai.

Nah, bagaimana cara mengukur denyut jantung? Cukup tempelkan jari telunjuk dan jari tengah kita pada pergelangan tangan bagian dalam atau di rahang bawah dekat leher, kemudian hitung denyutannya selama satu menit atau selama 30 detik dikalikan dua.


Hentikan Olahraga Jika ...


Jika Ibu merasakan keluhan nyeri, sesak napas, sakit kepala, bahkan terasa mau pingsan saat berolahraga, Ibu harus segera menghentikan latihan dan mencari pertolongan dokter. Begitu pula jika setelah berolahraga timbul flek darah atau keluar cairan yang bukan air seni dari vagina. Perhatikan pula pergerakan janin. Jika janin menjadi malas bergerak setelah Ibu berolahraga, segera hubungi dokter Anda.


Wednesday, September 2, 2015

Hamil Di Luar Kandungan (Kehamilan Ektopik)

Hamil Di Luar Kandungan (Kehamilan Ektopik)
Hamil diluar kandungan adalah sesuatu yang sangat ditakuti oleh para wanita. Ketika Ibu mengalami tanda-tanda kehamilan, seperti terlambat haid, mual muntah dan hasil testpack pun positif, tetapi alih-alih mendeteksi keberadaan janin dalam rahim, dokter justru menemukan denyut kehidupan di luar rahim.

Betul sekali, kehamilan memang bisa terjadi di luar kandungan, istilah medisnya kehamilan ektopik. Pada kehamilan yang normal, pertemuan antara sel telur dan sperma terjadi di saluran telur. Setelah pembuahan terjadi, seharusnya hasil pembuahan ini berjalan menuju rongga rahim.

Tapi pada kasus hamil di luar kandungan, hasil pembuahan tidak bisa mencapai rahim atau macet dan menetap di saluran telur atau tempat lainnya dalam perut Ibu, misalnya di leher rahim, dalam rongga perut atau di indung telur.

Otomatis, janin memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk bertahan hidup. Biasanya kehamilan di luar kandungan hanya dapat bertahan 5-10 minggu. Kehamilan seperti ini tidak bisa diselamatkan sehingga sering terjadi keguguran. Namun, pada sejumlah kondisi kecil, contoh pada kehamilan abdominal, ada juga janin yang bisa bertahan hingga masa persalinan dan persalinannya dilakukan dengan cara sesar.

Pastinya, Ibu yang mengalami kehamilan ektopik butuh pertolongan medis secepatnya. Jika dibiarkan, kondisi ini sangat berbahaya dan dapat mengancam nyawa Ibu karena kehamilan ektopik bisa menyebabkan perdarahan dalam rongga perut. Perdarahan dalam ini lebih berbahaya dibanding perdarahan luar.

Hamil ektopik menimpa sekitar 1% dari seluruh kehamilan. Sekitar 12% perempuan akan kembali mengalami kehamilan ektopik, ketika sebelumnya pernah mengalaminya. Kabar baiknya, perempuan akan subur kembali setelah mengalami kehamilan ektopik. Hanya saja, biasanya perempuan yang mengalami kehamilan ektopik akan dilanda trauma berat. Akibatnya, 30% tidak ingin mengalami kehamilan kembali, dan sekitar 10% akan memiliki masalah kesuburan.



Infeksi Tuba Fallopi


Kehamilan ektopik bisa disebabkan berbagai faktor. Namun, yang paling sering adalah : infeksi pada tuba fallopi (saluran yang menghubungkan indung telur dan rahim) dan adanya kerusakan di saluran telur yang membuat embrio tidak bisa menuju ke rahim. Pada beberapa kasus, ada kemungkinan penyebabnya ialah kesalahan salah satu jenis hormon pengaturan yang berperan dalam hal ini, sehingga perjalanan hasil pembuahan tidak lancar alias mengalami hambatan.

Semua perempuan beresiko mengalami hamil diluar kandungan. Hanya saja, risiko hamil diluar kandungan meningkat pada Ibu yang memiliki riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, pernah mengalami operasi pembedahan pada daerah sekitar tuba fallopi, ada kelainan kongenital pada tuba fallopi, memiliki riwayat PMS (penyakit menular seksual), dan risiko meningkat pada yang pernah aborsi berulang.

Saat usia kehamilan mencapai 6-10 minggu, Ibu dengan kehamilan ektopik akan mengalami sakit mendadak pada salah satu panggul, perdarahan vagina di luar jadwal menstruasi, nyeri yang sangat di daerah perut bagian bawah, hingga bisa sampai pingsan, terlihat pucat, tekanan darah rendah namun denyut nadi meningkat.



Deteksi Dini


Sayangnya, tidak ada tanda-tanda khusus seorang Ibu mengalami kehamilan diluar kandungan. Di awal-awal kehamilan, tanda-tanda yang diperlihatkan sama dengan kehamilan normal pada umumnya, seperti : terlambat menstruasi, morning sickness, dan pada tes kehamilan juga menunjukkan tanda positif. Karena tanda-tanda yang begitu mirip inilah, banyak Ibu hamil yang tidak menyadarinya.

Karena tanda-tanda kehamilan ektopik sama dengan kehamilan normal, maka kehamilan ektopik sulit dideteksi dengan hanya pemeriksaan luar. Untuk itu diperlukan pemeriksaan melalui USG (ultrasonografi), dari sini dapat terlihat apakah ada yang berbeda di saluran telur, apakah ada pendarahan dan janin ada di luar rahim.

Selain itu, deteksi kehamilan ektopik juga bisa dilakukan dengan pengukuran kadar hormon kehamilan hCG (Human Chorionic Gonadotropin). Ibu yang mengalami kehamilan ektopik, kadar hCG-nya tidak mengalami peningkatan. Cara lainnya dengan laparoskopi atau pembedahan dengan sayatan kecil di bagian bawah perut untuk pemeriksaan bagian dalam.



Embrio Diangkat


Karena hamil diluar kandungan sangat berisiko terhadap keselamatan Ibu, umumnya dokter akan mengambil keputusan untuk membatalkannya melalui operasi guna mengangkat embrio, sebagian atau keseluruhan saluran telur yang pecah, dan dibersihkan hingga tak ada jaringan yang tertinggal.

Jika hanya salah satu saluran telur yang diangkat, Ibu masih memiliki kemungkinan untuk hamil kembali dan melahirkan normal. Sangat penting untuk mengkonsultasikannya kepada dokter atau bidan apabila Ibu memutuskan untuk hamil kembali. Lakukan konsultasi sebelum dan selama kehamilan guna menghindari kejadian yang sama terulang dan menjaga kehamilan tetap berlangsung dengan baik hingga masa persalinan nanti.

Tapi jika kehamilan ektopik ini telah membuat kedua saluran telur diangkat, tentu Ibu tak bisa hamil kembali atau menjadi infertil. Pada kondisi ini, Ibu sangat membutuhkan dukungan Suami dan keluarga, ataupun teman dekat agar dapat pulih dan bisa melewati kesedihan karena kehilangan janin atau saluran telurnya. Di masa-masa yang sangat berat ini, sebaiknya Ibu tidak memendam kesedihan sendiri. Kehadiran Suami, terutama, sangat dibutuhkan untuk menguatkan mental Ibu.



Wednesday, August 12, 2015

Metode Persalinan Lotus Birth

metode persalinan lotus birth
Setelah era Hypnobirthing dan water birth, para ibu hamil kini juga sedang ketagihan info soal Lotus Birth. Untuk zaman sekarang proses melahirkan seperti Lotus Birth memang menjadi sangat tidak biasa, tapi dengan prinsip yang semua dikembalikan ke alam, Lotus Birth bikin ibu-ibu hamil penasaran. Lalu apakah yang dimaksud dengan Lotus Birth? Lotus birth adalah sebuah prosedur kelahiran dimana begitu bayi dilahirkan, tali pusat bayi dibiarkan tersambung dengan plasenta atau ari-ari, sampai  puput atau lepas sendiri dari badan bayi. Tujuannya adalah membiarkan plasenta menunaikan ”kewajiban” terakhirnya, yaitu membantu melepaskan tali pusat dari tubuh bayi. 

Lotus Birth, sebagai bagian dari metoda gentle birth yang akhir-akhir ini semakin populer, merupakan gerakan back to nature yang hendak mengembalikan kearifan lama dalam hidup manusia. Ketika manusia menemukan berbagai perkakas,  manusia ingin hidupnya lebih cepat,  efisien dan  efektif.  Namun teknologi kedokteran juga membawa dampak pada terganggunya harmoni kehidupan kita sebagai manusia, termasuk pada bayi yang baru saja lahir. Ketika kita mencoba untuk menghilangkan segala unsur-unsur ketidakpraktisan dan semua kerumitan, maka secara tidak sadar kita telah kehilangan manfaat yang tersembunyi di balik suatu peristiwa alamiah. Ketika tali pusat bayi digunting ketika bayi dilahirkan, maka kita membuat bayi kehilangan manfaat plasenta pada awal masa-masa kehidupannya di dunia.

Pemotongan tali pusat bayi sangatlah tidak dianjurkan pada proses kelahiran lotus birth, hal ini karena pemotongan bagian tubuh akan dapat menimbulkan perlukaan. Sebagai akibat terhadap adanya luka, maka tubuh akan melakukan proses peradangan guna menyembuhkan luka. Darah akan dipompa lebih banyak ke daerah  yang mengalami luka, sehingga daerah  itu  ”berdenyut” dan  menimbulkan rasa tidak nyaman. Itu pula yang akan terjadi saat tali pusat bayi dipotong. Bagian abdomen bayi mengalami perlukaan, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman ketika  luka ”berdenyut”.

Sangat penting untuk diketahui bahwa Lotus Birth tidak mungkin untuk dilakukan jika tali pusat bayi pendek, bayi mengalami asfiksia berat,  hasil dari tes`APGAR bayi sangat rendah dan pada kasus retensio plasenta atau plasenta tidak kunjung lepas dari dinding rahim.  Tetap dapat ditempuh pada bayi dengan kelahiran prematur, pada bayi yang dilahirkan secara operasi caesar dan sesudah prosedur pengambilan darah tali pusat untuk dapat disimpan di bank darah tali pusat.


Fungsi Plasenta


Ketika plasenta baru saja dilahirkan -sesaat setelah bayi lahir- organ itu sebenarnya masih menyalurkan darah yang kaya nutrisi dan zat-zat mineral (ureum, natrium, iron dan sebagainya), serta oksigen kepada bayi. 

Namun, proses pemotongan tali pusat akan ”memutus” penyaluran darah dan oksigen tersebut, sehingga bayi akan kehilangan kesempatan untuk mendapat sekitar 30 mililiter darah dari plasenta, yang nutrisinya sebanding dengan 600 mililiter darah orang dewasa. Dengan metode Lotus Birth sendiri menjamin peluang bayi untuk mendapatkan asupan darah dan oksigen dari plasenta.


Perawatan Plasenta


Saat bayi mandi, sebisa mungkin plasenta harus ikut dibersihkan,  setelah itu dikeringkan dengan cara ditekan-tekan lembut menggunakan handuk. Plasenta disimpan kembali di waskom dengan ditaburi garam laut/garam kristal dan dibubuhi minyak aromaterapi, untuk mencegah bau. Aromaterapi yang dipilih biasanya lavender, sebab dapat bersifat menenangkan dan dapat berfungsi sebagai anti serangga. Lotus birth diyakini mempercepat lepasnya tali pusat bayi. 

Manfaat Lotus Birth Bagi Bayi
  • Salah satunya yang telah dijelaskan dalam sebuah riset medis adalah  perilaku bayi-bayi yang menjalani Lotus Birth lebih tenang, tidur lebih nyenyak dan dapat mengisap ASI dengan lebih baik  dibanding bayi-bayi yang tali pusatnya digunting. Kemungkinan hal itu disebabkan karena bayi yang menjalani Lotus Birth tidak mengalami luka yang ”berdenyut” dan dapat mengganggu dirinya.
  • Proses persalinan merupakan fase transisi yang sangat penting dalam hidup bayi. Pada saat momen persalinan, dalam sekejap lingkungan hidup bayi berubah, dari rahim ke dunia luar. Lotus Birth dapat meminimalkan  trauma pada fase transisi itu. Dengan tetap terhubung dengan plasenta dan tali pusatnya (tidak buru-buru direnggut dan dipisahkan) diyakini akan  membuat bayi dapat menjalani awal kehidupannya di dunia dengan lebih relaks dan tenang, tanpa ada rasa gamang akibat dari ”kehilangan” dan  ”perpisahan” yang sangat mendadak dengan penyokong hidupnya di dalam rahim ibu hamil.  Dengan begitu maka diharapkan suasana hati bayi yang lebih baik  akan dapat mendukung  proses bonding antara bayi dengan ibu dan keluarganya.